Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1436H

Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh maghfiroh.

Pondasi Awal Masjid Rahmatan Lil Alamin

Pondasi Masjid menggunakan Pondasi kapal yang tahan gempa.

Masjid Rahmatan Lil Alamin

Di sini orang-orang beriman membangun Masjid Rahmatan Lil Alamain.

Kubah Masjid Rahmatan Lil Alamin

Memiliki 4 kuba Khulafaur Rasyidin, dan 8 Kubah tambahan di delapan penjuru mata angin.

Masjid Rahmatan Lil Alamin tampak dari Selatan

Masjid ini memiliki 7 lantai yang dilengkapi fasilitasi Lift dan eskalator di setiap lantainya.

Masjid Rahmatan Lil Alamin di Malam Hari

Lampu menerangi pemandangan yang indah pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Tampilkan postingan dengan label Jahe Membangun Mesjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jahe Membangun Mesjid. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2015

Bersatu Bahu Membahu Mensukseskan Program JAMMAS

Setelah palu diketok tanda dimulainya program JAMMAS seluruh civitas Al-Zaytun bergerak. Tujuannya hanya satu agar Masjid Rahmatan Lil Alamin segera selesai. Koordinator yang tersebar di seluruh Jawa, bertanggung-jawab mengumpulkan jahte yang akan dijadikan bibit. Setiap hari di akhir Desember tahun 2014 lalu mereka mencari dan menelisik dimana kebaradaan jahe gajah bermutu tinggi yang bisa dikembangkan untuk bibit. Ini bukan pekerjaan mudah, karena volume jahe yang akan dijadikan bibit jumlahnya ribuan kilogram. Boleh dibilang ini tak sekadar bibit biasa yang umumnya tidak memerlukan jate terlalu banyak.

Pencarian bibit memang menjadi salah satu langkah paling krusial meski tidak bisa dikatakn langkah pertama suksesnya program JAMMAS. K. Sejalan dengan agenda arena ditargetkan penanaman jahe unutk bibit ini harus selesai Januari 2015 atau hanya satu bulan bagitu gong ditabuh tanda dimulakannya program JAMMAS. Sejalan dengan agenda kerja bahwa jahe akan dipanen saat berumur sepluh bulan yang direncanakan Oktober 2015. Hasil panen pertama inilah yang akan dikembangkan untuk skala lebih luas, direncanakan memerluan 20 ton jahe.

Estimasinya satu titik tanam akan menghasilkan 20 kg jahe, untuk mendapatkan 20 ton itu diperlukan seribu titik tanam. Jika rata0rata stu titik tanam memerlukan dua kg, maka start pertama untuk bibit ini dibutuhkan dua ton jahe. Itu belum ditambah spare karena sudah barang tentu ada jahe yang tidak layak untuk bibit.

Kerja keras kemudian menjadi kata kunci keberhasilan. Jika agenda selesai tanam memerlukan waktu satu bulan, untuk penyediaan bibit pastilah lebih cepat dari dari itu. Karena Jahe yang akan dijadikan bibit mesti dipilah dan dipilih. Jadi para coordinator ini maksimal hanya mempunyai waktu setengah bulan untuk mencari jahe-jahe yang akan dijadikan bibit.

Mencari sumber-sumber penghasil jahe dan kantong-kantong jahe baik skala besar maupun kecil kemudain menjadi satu keharusan. Dimana pun, dari ujung timur Jawa sampai Banten jika mendapat informasi keberadaan jahe dalam jumlah besar akan diburu. Tidak mengenal waktu apakah pagi, siang atau sore, bahkan malam sekalipun. Karena pendeknya waktulah yang mengejar para koordinator.

Hasil kerja keras dalam waktu singkat itu melegakan semua civitas Al-Zaytun. Karena jerih payah selama dua Ahad itu membuahkan hasil yang mengembirakan. Ratusan peti berisi puluhan jahe siap untuk bibit mampu didatangkan oleh para koordinator. Memang tidak sekaligus, mengingat sulitnya mencari jahe dalam skala besar dalam satu tempat. Terkadang para koordinator hanya mendapatkan puluhan kilogram jahe dalam satu lokasi yang sudah didatangi. Tetapi itu tak jadi soal. Dari hanya puluah kilogram ini kemudian dikumpulkan dalam satu tempat sampai volumenya layak untuk dikirim ke Al-Zaytun. Bukan hanya pantas berkaitan dengan kuantitas saja, perkara bensin menjadi salah satu pertimbangan.

Alhasil jahe yang akan dijadikan bibit tibanya tidak serentak. Bartahap ! Keuntungan dari kedatangan jahe secara bertahap ini adaah tetap terjaganya kualitas jahe yang akan dijadikan bibit karena begitu samapai di Al-Zaytun langsung disortir dan ditanam mana yang layak untuk bibit atau sebaliknya. Jahe pun tidak mengalami penumpukan yang bisa mengakibatkan kebusukan.

Selain itu efisiensi tenaga kerja juga menjadi salah satu yang menjadi kelebihan. Karena jika jahe datang serentak sesuai dengan target pastilah untuk memilahnya memerlukan tenaga yang tidak sedikit. Itu belum termasuk ketelitian saat penyortiran. Barang dengan volume besar proses memilihnya jauh lebih sulit.

Saat para koordinator “gerilya” mencari jahe, relawan di Al-Zaytun mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan proses tanam. Empat lokasi disiapkan. Semuanya di dalam kampus Al-Zaytun. Ada yang di sebelah timur Waduk Istisqa’, di utara Masjid Rahmatan Lil Alamin, dan satu lagi di samping utara kantin umum. Sisanya di depan Gedung Perkuliahan Soeharto, tepatnya di lokasi yang akan dijadikan Gedung Pembelajaran Ir. Ahmad Soekarno.

Sistem yang digunakan untuk penanaman pembibitan tak ubahnya seperti proses pengolahan tanah untuk tanam bawang merah, berupa bedengan. Lajur-lajur bedengan dibentuk lebar kurang lebih dua meter. Di atas bedengan inilah karung-karung yang sudah diisi media tanam sebagai tempat nenaman jahe diletakan. Setiap bedengan diisi sebanyak empat karung berjejer dan berbanjar sepanjang bedengan tersebut. Pola bedengan ini dibuat ujuannya tak lain agar tanaman jahe tidak terendam ketika hujan turun. Kanan kirinya dibentuk selokan-selokan sebagai saluran air dan tempat lalu-lalang petugas yang merawat jahe.

Bersamaan penyediaan lahan, pembuatan media tanam pun dilakukan. Ribuan kubik tanah dengan kandungan unsur hara cukup diambil dari beberapa tempat yang ada di sekitar Kampus Al-Zaytun. Tanah ini kemudian dicampur dengan pupuk kandang dari peternakan Al-Zaytun. Ditambah pula sekam yang merupakan “limbah” penggilingan padai yang dimiliki Al-Zaytun. Perpaduan unsur-unsur tersebut diharapkan menjadi sebuah media tanam yang “mak nyus” untuk tumbuh kembangnya bibit-bibit jahe.

Lantaran volumenya sangat besar proses pencampuran untuk media tanam ini tidak manual, menggunakan cangkul misalnya. Backhoe yang biasanya digunakan untuk mengeruk tanah menjadi pilihan yang tepat. Dengan alat berat ini tanah, pupuk kandang dan sekam yang berpuluh-puluh kubik akan cepat tercampur dengan rata sesuai perbandingan yang diinginkan.

Puluhan relawan setiap hari bertugas memasukan media tanam yang sudah jadi ke dalam karung-karung yang telah di desain khusus. Ada yang bertugas menyerok dan memasukan media tanam ke dalam karung, ada yang bagian memegangi karung. Ada pula yang mendapat jatah menata karung-karung yang sudah diisi. Mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab yang diselingi canda tawa seakan tidak mengenal lelah dalam menyelesaikan tugas. Sebagai bentuk respon positif dengan adanya program JAMMAS ini.

Karung-karung yang sudah terisi media tanam “diterbangkan” menuju lokasi yang telah dipersiapkan. Truk pengangkut siap memberangkatkan ke lokasi yang jauh dari pencampuran media. Sedangkan yang sudah didekat lokasi, media itu diangkut dengan dipikul secara bergotongan untuk diletakan di atas bedengan. Hilir-mudik pengangkutan media tanam ini seakan menjadi kegiatan olahraga relawan Al-Zaytun.

Di atas lahan bedengan yang sudah terbentuk, karung-karung itu dijejer berbaris. Pengaturannya pun ditata sedemikian rupa supaya terlihat rapid an teratur. Ketika kita memandang laksana menyaksikan ratusan bahkan ribuan tentara yang berbaris dalam regunya masing-masng. Di dalam polybag itulah bibit-bibit jahe “diternak” hingga kelak menjadi “keluarga besar” yang mampu memenuhi kebutuhan bibit puluhan bahkan ratusan hektar lahan JAMMAS.




Three-red-handdrawn-down-arrows


Senin, 06 Juli 2015

Saatnya Penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin dengan Program Jammas


Pembangunan masjid selalu menjadi magnet bagi siapa saja. Orang akan dengan iklhlas mengulurkan tanggannya mengeluarkan shodaqoh demi terwujudnya rumah Allah. Itu terbukti dalam Program JAMMAS. Banyak orang berlomba-lomba menafkahkan hartanya di jalan kebenaran. Nilainya pun tak ala kadarnya dari jutaan rupiah hingga ratusan juta rupiah. Mereka berlomba Fastabiqul Al-khoirot.

Caranya setiap satu karung tanaman jahe “dinilai” Rp 20.000. Ini untuk memudahkan pernghitungan sehingga siapapun yang berhasrat untuk mensuksweskan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin cukup menyebut berapa karung sudah bisa dikalkulasi rupiah yang akan disumbangkan. Situasi acara sumbangan untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin ini terkadang tak ubahnya lelang kebaikan. Misalnya ada donator yang sebelumnya hanya berniat bershodaqoh 500 karung, karena melihat dan mendengar donator yang lain berdonasi lebih tinggi maka ia pun menaikan nilai shodaqohnya.

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, donator yang datang untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin bukanlah orang yang mempunyai maal yang lebih. Rasullullah menyebutnya sebagai kaum duafa. Duafa itu merupakan masyarakt grass roots yang sering diartikan masyarakat bawah itu bukan berarti orang-orang yang tidak mampu, justru merekalah yang mempunyai kekuatan yang bisa menggerakkan segala macam dalam makna positif.

Duafa juga bukan berarti lemah tanpa mempunyai perhitungan yang dafiq (shaleh), yang mampu menciptakan nashr (pertolongan) dan membawa rezeki. Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi duafaaikum (sesungguhnya kalian ditolong dan dibiayai orang-orang duafa) (HR. Ahmad).

Siti Aliyah misalnya, nenek berusia 72 tahun asal Desa Mondo, Kec.  Maja, Kab. Kediri, Jawa Timur, sanggup bershodaqoh 1.000 karung. Jika dirupiahkan sejumlah 20 juta. Angka yang sangat besar. Sehari-hari Alifyah hanya berdagang rempeyek. Rencananya uang sebanyak itu akan diberikan secara bertahap selama sepuluh bulan. Jadi rata-rata tiap bulan Akfiyah akan menyumbang sebesar Rp 2 juta . Alfiyah meyakini dengan bershodaqoh untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin rejekinya tidak akan berkurang bahkan bertambah. “Saya ini sudah tua, cari uang tiap hari buat apa?” katanya.

Hanifah perempuan umur 69 tahun dari Pontianak, Kalimantan Barat, datang dalam keadaan fisik kurang baik, kakinya sakit harus dibantu dengan kursi roda. “Untuk berdiri saja saya tidak bisa, tapi untuk JAMMAS saya mesti datang,” katanya. Sebelum naik di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin pikirannya berubah, niat shadaqahnya pun bertambah menjadi 1.000 karung. Azamnya kiang melambung setelah mendapat penjelasan tentang JAMMAS saat bersilahturahim dengan Syaykh Al-Zaytun. “Saya tetapkan bershadaqah 1.850 karung, atau Rp 37,5 Juta,” kata Hanifah.

Kabar Jahe Al-Zaytun Membangun Masjid juga sampai ke telinga Muslim Hamid lealki berumur 37 tahun yang sehari-hari menjadi juru parker di pusat perbelanjaan Muara Bungo, Jambi. Jiwanya langsung tergerak begitu informasi penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin diperolehnya. Muslim berangkat ke Al-Zaytun seorang diri meninggalkan istrinya yang sedang berdagang pisang. Lima belas juta rupiah menjadi tekadnya bershadaqah untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini pastilah tidak sedikit bagi juru parker seperti Muslim yang pendapatannya tak menentu. “Nilai dana yang saya niatkan memang cukup besar, tetapi semua kan untuk kebaikan,” kata Muslim.

Faturahman siswa kelas V SD asal Aceh saat datang bersama sang ayah Asril juga tak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi. Ia yang masih berumur 11 tahun ini jelas belum mempunyai penghasilan, namun begitu mendengan program JAMMAS hatinya tergerak, uang jajan pemberian dari sang ayah akan dikumpulkan, diserahkan untuk Rahmatan Lil Alamain. Bagi Faturahman sedikit mengurangi kesenangan untuk jajan tak jadi soal. Ikut tercatat sebagai anak yang terlibat dalam pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin adalah sebuah kemulian jiwa. Tujuh ratus lima puluh karung setara dengan Rp 15 juta merupakan azam yang diucapkannya.

Kelompok anak muda yang kerap dianggap suka hura-hura dan foya-foya juga tidak mau ketinggalan. Alimah misalnya, bersama Hendrik, Sose, dan Nurul, tiga rekan bisnisnya dibidang pembuatan coklat, semula atas nam kelompok usahanya berhasrat member 2500 karung. Namun Syaykh Al-Zaytun mengatakan jiga menyumbang atas nama kelompok tidak ada bin (nama ayah)-nya. “Bin itu merupakan doa anak kepada orang tua,” kata Syaykh menjelaskan pentingnya bin setelah nama seseorang.

Mendengar penjelasan itu Alimah berubah pikiran, 2500 karung pun dibagi empat, plus 300 karung dari kocek pribadi. Akhirnya anak-anak muda ini masing-masing mengazamkan kurang lebih 925 karung atau hampir 20 juta rupiah.

Dari kalangan guru Al-Zaytun, Usth. Kokom Komariah yang sehari-hari mengajar bahasa Indonesia bershadaqah Rp 20 juta sama dengan 1000 karung. Jumlah yang sangat besar bagi seorang pendidik yang sudah bisa diukur berapa pendapatan perbulannya.

Relawan Al-Zaytun juga tak mau ketinggalan turut ambil bagian dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Mereka yang kesehariannya berada di Kampus Al-Zaytun untuk mengerjakan berbagai pekerjaan menjadi kelompok paling awal ambil bagian dalam membantu pendanaan Masjdi Rahmatan Lil Alamin. Hanya hitungan jam saat program JAMMAS digulirkan mereka berbondong-bondong datang menjadi donator. Tak sampai satu bulan semua relawan yang jumlahnya lebih seribu orang itu sudah tercatat menjadi donator dengan besaran sumbangan variatif. Semuanya dibayar cash.
Dari kalangan usahawan tak kalah banyaknya dengan nilai uang yang disumbangkan juga tak sedikit, seperti Nova dan Syaiful Hadi dari Jakarta Pusat, Amir Marzuki dari Jakarta Selatan, dan Supriadi dari Bekasi yang sama-sama menyumbang 5.000 karung atau Rp 100 juta. Subaharman dan istrinya Aghia dari Banten masing-masing menyumbang sebesar 10.000 dan 7.000 karung.

Fikri Naufal asal Bekasi tidak mau menyia-nyiakan dalam berlomba untuk kebaikan. Dengan mantap pria ini mengzamkan 10.000 karung setara Rp 200 juta. Menurut Fikri sejak lama ia ingin melihat selesainya Masjid Rahmatan Lil Alamin. Maka begitu ada program JAMMAS Fikri segera menyambut. “Saya ingin membuat kenangan dalam hidup saya dengan ikut membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Naufal.

Para donator bukan hanya datang dari dalam negeri. Mereka ada juga dari Malaysia dan Singapura. Mereka adalah wali santri dan para pencinta Mahad Al-Zaytun. Seperti Ahmad Ruzizan Maphilindo dari Malaysia yang menyanggupi satu juta dolar Amerika untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Begitulah, berlomba-lomba dalam kebaikan unutk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin itu masih terus berlangsung. “Man bana lillaahi masjidan banallahu lahu baytan fii al-jannah (siapa yang membangun Masjid karena Allah, akan dibangunkan rumah di akhirat. HR. Mutafaw ‘alaih) (Al-Zaytun Edisi 65-2015)



Three-red-handdrawn-down-arrows


Minggu, 28 Juni 2015

Ikhlas dan Penuh Antusias menyambut Program JAMMAS


Hingga awal April 2015 lebih dari 17 ribu orang berbondong-bondong datang ingin menjadi bagian dari penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jarak, waktu, tenaga, dana, dan keluarga tak jadi soal. Jarak Aceh dan Indramayu pastilah tidak pendek. Jika menggunakan bus memakan waktu yan tidak singkat. Perlu tiga sampai empat hari perjalanan. Namun , bagi T.Puteharys, jarak tak menjadi masalah. Meski usianya sudah tak lagi muda, hampir mendekati 70 tahun, kakek ini tetap antusias dan semangat datang ke Al-Zaytun. Tujuannya hanya satu, ikut menyukseskan program JAMMAS.

Bersama 15 orang Aceh, Sabtu 28 Pebruari 2015 saat tiba di Al-Zaytun, tak mengenal lelah setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer, Puteh yang kakinya (maaf) sudah tidak berfungsi dengan baik, harus dibantu kursi roda, langsung tawaf, berkeliling dengan menaiki lebih dari 300 anak tangga mulai lantai pertama sampai puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berlantai tujuh itu.

Puteh hanyalah satu dari ribuan orang sejak program JAMMAS disosialisasikan akhir tahun 2014. Tua, muda, laki-laki dan perempuan, beragam profesi, dari pedagang, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, pegawai negeri, petani, mahasiswa, pegawai kantor dan lain sebagainya selama program JAMMAS “diluncurkan” tumplek blek seperti semut mendatangi gula ke Al-Zaytun.

Hingga awal April 2015 tercatat 17.254 orang datang ke Al-Zaytun menyatakan memberikan dukungan dan ambil bagian terhadap pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini dipastikan akan terus meningkat mengingat sampai detik ini masih banyak masyarakat yang antusias andil dalam program JAMMAS.

Melihat data pada pekan pertama April 2015 itu, rata-rata setiap bulan empat ribu orang lebih ke Al-Zaytun untuk menjadi bagian dari program JAMMAS. Mereka datang berombongan, puluhan, belasan bahkan ratusan orang. Jika tidak mempunyai keinginan yang kuat dalam diri, mustahil ini terjadi. Apalagi mereka datang dari berbagai tempat di seluruh nusantara, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai negeri jiran Malaysia.

Padahal program JAMMS ini tidak diumumkan melalui media cetak, televise ataupun radio. Hanya lewat mulut ke mulut, atau getok tulas, namun animo masyarakat ternyata sangat tinggi. Bayangkan betapa dasyatnya jika melalui media masa. Ini membuktikan tak susah mengajak masyarakat untuk berjalan direl kebaikan.

Ketika tulisan ini dibuat pertengahan April 2015, setiap pekannya masih ratusan orang datang untuk berpartisipasi menyelesaikan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Ini bukan berarti menunjukan adanya penurunan dibandingkan pada awal-awal program JAMMAS digemakan yang setiap harinya ratusan orang datang untuk menafkahkan harta demi cita-cita terwujudnya tempat ibadah umat Islam yang megah, tetapi lebih kepada rencana pada September 2015 ini sebanyak 22.000 orang harus sudah siap mendonasikan hartanya. Artinya tak sampai lima ribu orang. Artinya pada bulan April 2015 sudah mencapai 17.000 berarti tak sampai lima ribu orang rencana 22.000 orang akan dicapai. Dan jika dihitung dari April masih ada waktu lima bulan lagi sampai bulan Sembilan.

Kenapa untuk menjadi dinatur saja kok mesti ke Al-Zaytun? Mengapa bukan uangnya saja yang “mendatangi”? Praktis dan gampang. Tak perlu repot. Jika berpikir sederhana memang begitu. Akan tetapi ini bukan hanya soal uang. Uang memang diperlukan, akan tetapi bertemu sesame dinatur dan melihat langsung Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berdiri kokoh juga sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Dari melihat langsung Masjid yang akan menajdi kebanggaan umat Islam inilah rasa memiliki akan timbul. Dan semakin menjadi mengerti beta besarnya umat Islam. “Saya benar-benar terkesima setelah sampai di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Safi’ih Arep, donator dari Tangerang dengan suara tersendat-sendat menahan haru.

Ribuan “Safi’ih” mengalami “sesak nafas” dan tak bisa berkata-kata karena terpana. Kondisi ini sulit terjadi jika mereka tak memiliki girah terhadap program JAMMAS. Untuk sampai di Al-Zaytun banyak hal yang mesti dipertimbangkan (dalam makna positif), waktu harus diatur agar tak bebenturan denga kegiatan yang lainnya, tenaga mesti dipersiapkan agar tetap fit setelah menempuh perjalanan jauh. Tak jarang pekerajaan juga harus ditinggalkan untuk sementara. Itu hanya diantaranya. Tetapi jiga kemudian para donator ini rela mengorbankan semua yang sudah menjadi rutinitasnya, jawabnya apalagi kalau bukan karena antusias menyambut program JAMMAS.

Paling tidak untuk mengikuti kegiatan program JAMMAS ini para donator memerlukan waktu satu hari dua malam, jika berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, dari Jakarta Sabtu malam, maka pada Ahad mereka akan mengikuti kegiatan program JAMMAS seperti tawaf, silahturahim denga Syaykh Al-Zaytun dan menyampaikan jumlah dana yang akan dishadaqahkan. Ahad malamnya baru bertolak ke Jakarta. Bayangkan jika mereka datang dari Surabaya, atau daerah lain di luar Jawa. Pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Bahkan agar tak sampai terlambat mengikuti acara seringkali para donator ini datang lebih awal. Seperti 15 orang calon dinatur dari Jambi. Diagendakan mengikuti acara pada Ahad 29 Maret, namun mereka tiba sehari sebelumnya. Waktu menunggu seharti tak disia-siakan, hal ihwal yang ada di Al-Zaytun “ditunjau”, Masjid Rahmatan Lil Alamin tentulah menjadi tempat “favorit” yang dilhat. Apalagi maksudnya kalau bukan semakin menumbuhkan semangat dan meneguhkan niat.

Soal antusias merespon program JAMMAS ini juga datang dari Priyagung Sambodo yang tak kalan serunya. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang berusia 21 tahun ini begitu mendengar rencana penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin, jiwanya langsung tergerak, bak pesan berantai teman-temannya dihubungi diberikan informasi. Perjuangannya tak bertepuk sebelah tangan, taman-temannya menyambut penuh semangat. Jadwal untuk berangkat ke Al-Zaytun pun dibuat. Semua sepakat 1 Februari. Maka hari pertama Februari yang jatuh pada Ahad itu seakan menajdi ajang pembuktian bagi Agung dan teman-temannya sesame mahasiswa di Yogyakarta terlibat dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Cerita lain datang dari istri-istri relawan Al-Zaytun yang berdomisili di luar Indramayu. Sebagapi pendamping suami yang dalam istilah jawa kerap disebut suargo nunut, neroko katut tak mau ketinggalam mengikuti jejak sang suami yang telah lebih dulu mengikti program JAMMAS. Contohnya, Nyonya Warsun, ibu empat anak ini yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan bonafit di Jakarta. Ketika mengajukan cuti beberapa hari akan mengikuti acara program JAMMAS, sang manajer menoak scara halus dengan memberikan iming-iming akan di bayar lebih besar jika cuti tidka dilakukan. Namun Nyonya warsun tetap tidak bergeming. Program JAMMAS didahulukan imbalan besar sang manajer diabaikan.

Malah, beberapa orang istri relawan yang juga bertempat tinggal jauh dari Indramayu begitu tiba di Al-Zaytun sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan tak bisa langsung mengikuti acara. Mreka harus pulang karena acaranya ditunda. Kalau tidak memiliki jiwa besar untuk menjadi bagian pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin pastilah akan patah arang. Tetapi itu tidak terjadi, mereka tetap datang lagi begitu diundang. Dengan ikhlas dan Antusias menyambut Program JAMMAS.



Three-red-handdrawn-down-arrows


Sabtu, 27 Juni 2015

Program Seru Jahe Mahad Al-Zaytun Membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin menjelang Tahun Baru 2014

Program itu digulirkan pada penghujung tahun 2014. JAMMAS begitu namanya. Singkat gampang diingat plus mudah dihafalkan. JAMMAS merupakan akronim dari Jahe Mahad Al-Zaytun Membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin. Atau lebih tepatnya melanjutkan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Masjid tujuh lantai yang berada di tengah-tengah Kampus Al-Zaytun, dapat dilihat dalam radius belasan kilometer. Tergambar betapa besarnya, dan berapa dana yang diperlukan.

Rencananya Masjid Rahmatan Lil Alamin ini akan diselesaikan selama tiga tahun mulai September atau Oktober 2015. Menara Pemuda dan Perdamaian diagendakan pada tahun pertama. Selanjutnya menyelesaikan Kubah yang akan dilapisi emas (Al Mustafa al Kubra). Tahun ketiga pemasangan granit dinding, penyelesaian lift dan escalator.

Lho, kok bisa? Hanya dengan jahe tanaman rimpang dengan rasa pedas dan hanggat yang mudah tumbuh dan tak sulit dicari dipasaran itu dapat dijadikan alat membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin. Bagaimana caranya? Simak saja berita-berita mengenai JAMMAS, jahe Mahad Al-Zaytun membangun masjid ini.



Three-red-handdrawn-down-arrows


Rabu, 17 Juni 2015

Membuat Keajaiban Dunia ke 8

Dalam Dzikir Jumat Syekh AS Panji Gumilang Pada tanggal 20 Pebruari 2015, disampaikan mengenai program jammas, yakni Program Jahe membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Masjid Rahmatan Lil Alamin, di rencanakan sebagai Masjid terbesar dan terindah di dunia. Semoga saja ya. Yuk kita simak apa yang disampaikan beliau dalam Dzikir Jumat tersebut di bawah ini.


Sabtu, 13 Juni 2015

Sosialisasi Pembukaan Program Jammas : Jahe Membangun Masjid Rahmatan Lil'alamin di Kampus Al Zaytun

Jammas..Jahe membangun masjid, nama yang diberikan  oleh Syaykh Al Zaytun  untuk program pembangunan finishing masjid Rahmatan lil Alamin sebuah Masjid  terbesar di dunia. 

Mungkin sebagian warga bangsa belum mengetahui apa itu Jammas, dan kenapa di beri nama Jammas, sebagai peserta dan sekaligus donator Jammas melalui tauziah yang disampakaikan oleh Syekh AS Panji Gumilang di jelaskan tentang apa itu Jammas dan kenapa di berikan nama Jammas.

Jammas adalah Jahe membangun Masjid, jahe yang di maksud adalah jahe yang di tanam sendiri oleh para petani dan hasil dari jahe inilah yang akan membiayai   penyelesaian masjid Rahamatan lil Alamin

Masjid ini bukan masjid biasanya, karena masjid ini sangat besar dan diperhitungkan akan menjadi pusat peradaban dunia masa kini dan akan datang. Masjid Rahmatan lil Alamin,itulah nama masjid tersebut.

Program Jammas Jahe Membangun Masjid Rahmatan Lil'alamin


Selasa, 09 Juni 2015

Program Jammas (Jahe Membangun Masjid)

Melihat peluang pada Jahe Gajah, Mahad Al-Zaytun sebagai instansi pendidikan yang juga peduli akan pertanian dalam negri membentuk tim riset Jahe Gajah. Hasilnya adalah bahwa 1 rias jahe gajeh yang ditanam dengan media Karung mampu menghasilkan Jahe seberat 20 KG yang siap dipanen dalam jangka waktu 10 bulan.
 

Melihat fakta itu Syaikh Al-Zaytun mencanangkan Program JAMMAS (Jahe Membangun Masjid) yang dicanangkan pada saat melepas para santri Ma'had Al-Zaytun untuk belajar di masyarakat pada tanggal 7 Desember 2014.
Program tersebut mengajak masyarakat luas khususnya wali santri untuk menjadi donatur dalam rangka penyelesaian pembangunan Masjid Rahmatan Lil A'lamiin Program tersebut disambut gembira oleh para wali santri yang memang ingin masjid dengan daya tampung mencapai 100 ribu jamaah cepat selesai.

 
Tahapan program JAMMAS
 

Pengumpulan dana dari para donatur dalam bentuk nilai tunai penanaman jahe gajah dalam karung sampai masa panen senilai Rp. 20.000/karung. Dana tersebut akan diinvestasikan untuk penanaman jahe gajah oleh tim pertanian Ma'had Al-Zaytun.
Setelah ditanam maka akan masuk pada masa perawatan tanaman hingga siap dipanen dengan jangka waktu 10 bulan. Setelah dipanen maka akan di jual.

 

Dana hasil penjualannya siap dibelanjakan untuk kebutuhan penyelesaian pembangunan Masjid Rahmatan Lil A'lamiin. Penanaman dan penyelesaian pembangunan masjid ini di rencanakan akan selesai dalam 3 tahun.
 
Perhitungan Matematis Program Jammas
 

Dengan modal awal Rp. 20.000/ karung mampu menghasilkan Jahe seberat 20 kg/karung. Saat ini (12 jan 2015) harga Jahe Gajah tertinggi Rp. 24.000/kg, terendah Rp. 15.000/kg jika diambil rata2 maka harga Jahe Gajah senilai:
Rp. 20.000/kg x 20kg (hasil panen) = Rp. 400.000/karung

 

Untuk 1 meter persegi mampu menampung 4 karung tanaman Jahe Gajah, maka hasil untuk 1 meter persegi, 4 karung x Rp. 400.000/karung = Rp. 1.600.000/M2.
Jika kebutuhan dana untuk penyelesaian pembangunan Masjid kurang lebih Rp. 700.000.000.000 kebutuhan jahe yang harus ditanam untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu: Rp. 700.000.000.000/ Rp. 400.000 = 1.750.000 karung.

 

Kebutuhan Lahan (dalam M2): 1.750.000 / 4 = 437.500m2 atau 43,75 Ha
Kebutuhan Modal Awal: 1.750.000 x Rp. 20.000 = 35.000.000.000 atau 35M.
Dengan masa perencanaan selama 3 tahun, maka 35M / 3 = 11,67M per tahun

Melihat angka diatas mungkin terlihat besar bahkan mungkin terdengar mustahil. Namun tidak ada yang tidak mungkin selama kita punya keinginan.


Program ini akan menjadi percontohan dalam pembangunan Masjid-masjid di Indonesia. Dengan program penanaman jahe dalam karung maka konsep ini dapat dijalankan dimanapun bahkan di tempat yang kering sekalipun.

 

Ma'had Al-zaytun akan menjadi pertama yang memadu padankan pembangunan masjid dan pertanian dengan teknologi moderen. Sekaligus memberikan harapan dan impian bagi generasi mendatang untuk mau bermimpi menjadi petani moderen.
 

Sekecil apapun sejarah yang kita ukir akan tercatat dan dikenang.



Three-red-handdrawn-down-arrows BANNER FREE MEMBER

Cara Al Zaytun Menggalang Dana Untuk Pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin

Seperti kita ketahui bahwa membangun masjid untuk kepentingan ibadah dan pendidikan pasti harus menggunakan biaya yang tidak sedikit. Mereka biasanya mencari dana dengan berbagai cara dari meminta sumbangan kepada warga yang ada di sekitar hingga meminta-minta di jalanan. 

Tapi ada yang unik yang dilakukan oleh Pondok Pesantren terbesar di Indramayu Jawa Barat yakni Pondok Pesantren Al Zaytun untuk mencari dana untuk pembangunan masjid terbesar di Jawa Barat ini.

Mereka mengumpulkan dana pembangun masjid selain meminta sumbangan dari para santrinya dengan cara yang disebut dengan Jammas (Jahe Membangun Masjid). Dengan program ini pengelola Pesantren menanam jahe setelah besar dan bisa dipanen, hasilnya bisa digunakan untuk pembangunan masjid.


Selain Jammas, ada juga Japale (Jahe Padi Kacang Kedelai), mereka menanam jahe padi dan kedelai, setelah panen hasilnya bisa digunakan untuk pembangunan masjid dan keperluan pondok lainnya. Seperti diungkap Pak Hernawan Setia salah satu wali santri pondok pesantren Al Zaytun Indramayu kepada kami. 

Al Zaytun memang terkenal sebagai penghasil sayur-sayuran di wilayah Indramayu. Tidak heran jika hasilnya kini memenuhi pasar-pasar yang ada di sekitarnya seperti Pasar Haurgeulis, Patrol dan ada pula yang dikirim ke supermarket-supermarket di kota besar. 

Cara ini bisa ditiru oleh panitia pembangunan masjid di seluruh Indonesia. Cara ini dianggap elegan dan lebih bermartabat dibandingkan harus menadahkan seser (jaring ikan) di jalan-jalan besar atau kecil yang terkadang mengganggu perjalanan seseorang.(Sumber : www.bloggermangga.com)



Three-red-handdrawn-down-arrows BANNER FREE MEMBER