Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1436H

Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh maghfiroh.

Pondasi Awal Masjid Rahmatan Lil Alamin

Pondasi Masjid menggunakan Pondasi kapal yang tahan gempa.

Masjid Rahmatan Lil Alamin

Di sini orang-orang beriman membangun Masjid Rahmatan Lil Alamain.

Kubah Masjid Rahmatan Lil Alamin

Memiliki 4 kuba Khulafaur Rasyidin, dan 8 Kubah tambahan di delapan penjuru mata angin.

Masjid Rahmatan Lil Alamin tampak dari Selatan

Masjid ini memiliki 7 lantai yang dilengkapi fasilitasi Lift dan eskalator di setiap lantainya.

Masjid Rahmatan Lil Alamin di Malam Hari

Lampu menerangi pemandangan yang indah pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Tampilkan postingan dengan label Mesjid Rahmatan Lil Alamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesjid Rahmatan Lil Alamin. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

Saatnya Penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin dengan Program Jammas


Pembangunan masjid selalu menjadi magnet bagi siapa saja. Orang akan dengan iklhlas mengulurkan tanggannya mengeluarkan shodaqoh demi terwujudnya rumah Allah. Itu terbukti dalam Program JAMMAS. Banyak orang berlomba-lomba menafkahkan hartanya di jalan kebenaran. Nilainya pun tak ala kadarnya dari jutaan rupiah hingga ratusan juta rupiah. Mereka berlomba Fastabiqul Al-khoirot.

Caranya setiap satu karung tanaman jahe “dinilai” Rp 20.000. Ini untuk memudahkan pernghitungan sehingga siapapun yang berhasrat untuk mensuksweskan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin cukup menyebut berapa karung sudah bisa dikalkulasi rupiah yang akan disumbangkan. Situasi acara sumbangan untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin ini terkadang tak ubahnya lelang kebaikan. Misalnya ada donator yang sebelumnya hanya berniat bershodaqoh 500 karung, karena melihat dan mendengar donator yang lain berdonasi lebih tinggi maka ia pun menaikan nilai shodaqohnya.

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, donator yang datang untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin bukanlah orang yang mempunyai maal yang lebih. Rasullullah menyebutnya sebagai kaum duafa. Duafa itu merupakan masyarakt grass roots yang sering diartikan masyarakat bawah itu bukan berarti orang-orang yang tidak mampu, justru merekalah yang mempunyai kekuatan yang bisa menggerakkan segala macam dalam makna positif.

Duafa juga bukan berarti lemah tanpa mempunyai perhitungan yang dafiq (shaleh), yang mampu menciptakan nashr (pertolongan) dan membawa rezeki. Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi duafaaikum (sesungguhnya kalian ditolong dan dibiayai orang-orang duafa) (HR. Ahmad).

Siti Aliyah misalnya, nenek berusia 72 tahun asal Desa Mondo, Kec.  Maja, Kab. Kediri, Jawa Timur, sanggup bershodaqoh 1.000 karung. Jika dirupiahkan sejumlah 20 juta. Angka yang sangat besar. Sehari-hari Alifyah hanya berdagang rempeyek. Rencananya uang sebanyak itu akan diberikan secara bertahap selama sepuluh bulan. Jadi rata-rata tiap bulan Akfiyah akan menyumbang sebesar Rp 2 juta . Alfiyah meyakini dengan bershodaqoh untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin rejekinya tidak akan berkurang bahkan bertambah. “Saya ini sudah tua, cari uang tiap hari buat apa?” katanya.

Hanifah perempuan umur 69 tahun dari Pontianak, Kalimantan Barat, datang dalam keadaan fisik kurang baik, kakinya sakit harus dibantu dengan kursi roda. “Untuk berdiri saja saya tidak bisa, tapi untuk JAMMAS saya mesti datang,” katanya. Sebelum naik di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin pikirannya berubah, niat shadaqahnya pun bertambah menjadi 1.000 karung. Azamnya kiang melambung setelah mendapat penjelasan tentang JAMMAS saat bersilahturahim dengan Syaykh Al-Zaytun. “Saya tetapkan bershadaqah 1.850 karung, atau Rp 37,5 Juta,” kata Hanifah.

Kabar Jahe Al-Zaytun Membangun Masjid juga sampai ke telinga Muslim Hamid lealki berumur 37 tahun yang sehari-hari menjadi juru parker di pusat perbelanjaan Muara Bungo, Jambi. Jiwanya langsung tergerak begitu informasi penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin diperolehnya. Muslim berangkat ke Al-Zaytun seorang diri meninggalkan istrinya yang sedang berdagang pisang. Lima belas juta rupiah menjadi tekadnya bershadaqah untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini pastilah tidak sedikit bagi juru parker seperti Muslim yang pendapatannya tak menentu. “Nilai dana yang saya niatkan memang cukup besar, tetapi semua kan untuk kebaikan,” kata Muslim.

Faturahman siswa kelas V SD asal Aceh saat datang bersama sang ayah Asril juga tak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi. Ia yang masih berumur 11 tahun ini jelas belum mempunyai penghasilan, namun begitu mendengan program JAMMAS hatinya tergerak, uang jajan pemberian dari sang ayah akan dikumpulkan, diserahkan untuk Rahmatan Lil Alamain. Bagi Faturahman sedikit mengurangi kesenangan untuk jajan tak jadi soal. Ikut tercatat sebagai anak yang terlibat dalam pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin adalah sebuah kemulian jiwa. Tujuh ratus lima puluh karung setara dengan Rp 15 juta merupakan azam yang diucapkannya.

Kelompok anak muda yang kerap dianggap suka hura-hura dan foya-foya juga tidak mau ketinggalan. Alimah misalnya, bersama Hendrik, Sose, dan Nurul, tiga rekan bisnisnya dibidang pembuatan coklat, semula atas nam kelompok usahanya berhasrat member 2500 karung. Namun Syaykh Al-Zaytun mengatakan jiga menyumbang atas nama kelompok tidak ada bin (nama ayah)-nya. “Bin itu merupakan doa anak kepada orang tua,” kata Syaykh menjelaskan pentingnya bin setelah nama seseorang.

Mendengar penjelasan itu Alimah berubah pikiran, 2500 karung pun dibagi empat, plus 300 karung dari kocek pribadi. Akhirnya anak-anak muda ini masing-masing mengazamkan kurang lebih 925 karung atau hampir 20 juta rupiah.

Dari kalangan guru Al-Zaytun, Usth. Kokom Komariah yang sehari-hari mengajar bahasa Indonesia bershadaqah Rp 20 juta sama dengan 1000 karung. Jumlah yang sangat besar bagi seorang pendidik yang sudah bisa diukur berapa pendapatan perbulannya.

Relawan Al-Zaytun juga tak mau ketinggalan turut ambil bagian dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Mereka yang kesehariannya berada di Kampus Al-Zaytun untuk mengerjakan berbagai pekerjaan menjadi kelompok paling awal ambil bagian dalam membantu pendanaan Masjdi Rahmatan Lil Alamin. Hanya hitungan jam saat program JAMMAS digulirkan mereka berbondong-bondong datang menjadi donator. Tak sampai satu bulan semua relawan yang jumlahnya lebih seribu orang itu sudah tercatat menjadi donator dengan besaran sumbangan variatif. Semuanya dibayar cash.
Dari kalangan usahawan tak kalah banyaknya dengan nilai uang yang disumbangkan juga tak sedikit, seperti Nova dan Syaiful Hadi dari Jakarta Pusat, Amir Marzuki dari Jakarta Selatan, dan Supriadi dari Bekasi yang sama-sama menyumbang 5.000 karung atau Rp 100 juta. Subaharman dan istrinya Aghia dari Banten masing-masing menyumbang sebesar 10.000 dan 7.000 karung.

Fikri Naufal asal Bekasi tidak mau menyia-nyiakan dalam berlomba untuk kebaikan. Dengan mantap pria ini mengzamkan 10.000 karung setara Rp 200 juta. Menurut Fikri sejak lama ia ingin melihat selesainya Masjid Rahmatan Lil Alamin. Maka begitu ada program JAMMAS Fikri segera menyambut. “Saya ingin membuat kenangan dalam hidup saya dengan ikut membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Naufal.

Para donator bukan hanya datang dari dalam negeri. Mereka ada juga dari Malaysia dan Singapura. Mereka adalah wali santri dan para pencinta Mahad Al-Zaytun. Seperti Ahmad Ruzizan Maphilindo dari Malaysia yang menyanggupi satu juta dolar Amerika untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Begitulah, berlomba-lomba dalam kebaikan unutk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin itu masih terus berlangsung. “Man bana lillaahi masjidan banallahu lahu baytan fii al-jannah (siapa yang membangun Masjid karena Allah, akan dibangunkan rumah di akhirat. HR. Mutafaw ‘alaih) (Al-Zaytun Edisi 65-2015)



Three-red-handdrawn-down-arrows


Minggu, 28 Juni 2015

Ikhlas dan Penuh Antusias menyambut Program JAMMAS


Hingga awal April 2015 lebih dari 17 ribu orang berbondong-bondong datang ingin menjadi bagian dari penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jarak, waktu, tenaga, dana, dan keluarga tak jadi soal. Jarak Aceh dan Indramayu pastilah tidak pendek. Jika menggunakan bus memakan waktu yan tidak singkat. Perlu tiga sampai empat hari perjalanan. Namun , bagi T.Puteharys, jarak tak menjadi masalah. Meski usianya sudah tak lagi muda, hampir mendekati 70 tahun, kakek ini tetap antusias dan semangat datang ke Al-Zaytun. Tujuannya hanya satu, ikut menyukseskan program JAMMAS.

Bersama 15 orang Aceh, Sabtu 28 Pebruari 2015 saat tiba di Al-Zaytun, tak mengenal lelah setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer, Puteh yang kakinya (maaf) sudah tidak berfungsi dengan baik, harus dibantu kursi roda, langsung tawaf, berkeliling dengan menaiki lebih dari 300 anak tangga mulai lantai pertama sampai puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berlantai tujuh itu.

Puteh hanyalah satu dari ribuan orang sejak program JAMMAS disosialisasikan akhir tahun 2014. Tua, muda, laki-laki dan perempuan, beragam profesi, dari pedagang, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, pegawai negeri, petani, mahasiswa, pegawai kantor dan lain sebagainya selama program JAMMAS “diluncurkan” tumplek blek seperti semut mendatangi gula ke Al-Zaytun.

Hingga awal April 2015 tercatat 17.254 orang datang ke Al-Zaytun menyatakan memberikan dukungan dan ambil bagian terhadap pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini dipastikan akan terus meningkat mengingat sampai detik ini masih banyak masyarakat yang antusias andil dalam program JAMMAS.

Melihat data pada pekan pertama April 2015 itu, rata-rata setiap bulan empat ribu orang lebih ke Al-Zaytun untuk menjadi bagian dari program JAMMAS. Mereka datang berombongan, puluhan, belasan bahkan ratusan orang. Jika tidak mempunyai keinginan yang kuat dalam diri, mustahil ini terjadi. Apalagi mereka datang dari berbagai tempat di seluruh nusantara, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai negeri jiran Malaysia.

Padahal program JAMMS ini tidak diumumkan melalui media cetak, televise ataupun radio. Hanya lewat mulut ke mulut, atau getok tulas, namun animo masyarakat ternyata sangat tinggi. Bayangkan betapa dasyatnya jika melalui media masa. Ini membuktikan tak susah mengajak masyarakat untuk berjalan direl kebaikan.

Ketika tulisan ini dibuat pertengahan April 2015, setiap pekannya masih ratusan orang datang untuk berpartisipasi menyelesaikan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Ini bukan berarti menunjukan adanya penurunan dibandingkan pada awal-awal program JAMMAS digemakan yang setiap harinya ratusan orang datang untuk menafkahkan harta demi cita-cita terwujudnya tempat ibadah umat Islam yang megah, tetapi lebih kepada rencana pada September 2015 ini sebanyak 22.000 orang harus sudah siap mendonasikan hartanya. Artinya tak sampai lima ribu orang. Artinya pada bulan April 2015 sudah mencapai 17.000 berarti tak sampai lima ribu orang rencana 22.000 orang akan dicapai. Dan jika dihitung dari April masih ada waktu lima bulan lagi sampai bulan Sembilan.

Kenapa untuk menjadi dinatur saja kok mesti ke Al-Zaytun? Mengapa bukan uangnya saja yang “mendatangi”? Praktis dan gampang. Tak perlu repot. Jika berpikir sederhana memang begitu. Akan tetapi ini bukan hanya soal uang. Uang memang diperlukan, akan tetapi bertemu sesame dinatur dan melihat langsung Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berdiri kokoh juga sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Dari melihat langsung Masjid yang akan menajdi kebanggaan umat Islam inilah rasa memiliki akan timbul. Dan semakin menjadi mengerti beta besarnya umat Islam. “Saya benar-benar terkesima setelah sampai di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Safi’ih Arep, donator dari Tangerang dengan suara tersendat-sendat menahan haru.

Ribuan “Safi’ih” mengalami “sesak nafas” dan tak bisa berkata-kata karena terpana. Kondisi ini sulit terjadi jika mereka tak memiliki girah terhadap program JAMMAS. Untuk sampai di Al-Zaytun banyak hal yang mesti dipertimbangkan (dalam makna positif), waktu harus diatur agar tak bebenturan denga kegiatan yang lainnya, tenaga mesti dipersiapkan agar tetap fit setelah menempuh perjalanan jauh. Tak jarang pekerajaan juga harus ditinggalkan untuk sementara. Itu hanya diantaranya. Tetapi jiga kemudian para donator ini rela mengorbankan semua yang sudah menjadi rutinitasnya, jawabnya apalagi kalau bukan karena antusias menyambut program JAMMAS.

Paling tidak untuk mengikuti kegiatan program JAMMAS ini para donator memerlukan waktu satu hari dua malam, jika berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, dari Jakarta Sabtu malam, maka pada Ahad mereka akan mengikuti kegiatan program JAMMAS seperti tawaf, silahturahim denga Syaykh Al-Zaytun dan menyampaikan jumlah dana yang akan dishadaqahkan. Ahad malamnya baru bertolak ke Jakarta. Bayangkan jika mereka datang dari Surabaya, atau daerah lain di luar Jawa. Pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Bahkan agar tak sampai terlambat mengikuti acara seringkali para donator ini datang lebih awal. Seperti 15 orang calon dinatur dari Jambi. Diagendakan mengikuti acara pada Ahad 29 Maret, namun mereka tiba sehari sebelumnya. Waktu menunggu seharti tak disia-siakan, hal ihwal yang ada di Al-Zaytun “ditunjau”, Masjid Rahmatan Lil Alamin tentulah menjadi tempat “favorit” yang dilhat. Apalagi maksudnya kalau bukan semakin menumbuhkan semangat dan meneguhkan niat.

Soal antusias merespon program JAMMAS ini juga datang dari Priyagung Sambodo yang tak kalan serunya. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang berusia 21 tahun ini begitu mendengar rencana penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin, jiwanya langsung tergerak, bak pesan berantai teman-temannya dihubungi diberikan informasi. Perjuangannya tak bertepuk sebelah tangan, taman-temannya menyambut penuh semangat. Jadwal untuk berangkat ke Al-Zaytun pun dibuat. Semua sepakat 1 Februari. Maka hari pertama Februari yang jatuh pada Ahad itu seakan menajdi ajang pembuktian bagi Agung dan teman-temannya sesame mahasiswa di Yogyakarta terlibat dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Cerita lain datang dari istri-istri relawan Al-Zaytun yang berdomisili di luar Indramayu. Sebagapi pendamping suami yang dalam istilah jawa kerap disebut suargo nunut, neroko katut tak mau ketinggalam mengikuti jejak sang suami yang telah lebih dulu mengikti program JAMMAS. Contohnya, Nyonya Warsun, ibu empat anak ini yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan bonafit di Jakarta. Ketika mengajukan cuti beberapa hari akan mengikuti acara program JAMMAS, sang manajer menoak scara halus dengan memberikan iming-iming akan di bayar lebih besar jika cuti tidka dilakukan. Namun Nyonya warsun tetap tidak bergeming. Program JAMMAS didahulukan imbalan besar sang manajer diabaikan.

Malah, beberapa orang istri relawan yang juga bertempat tinggal jauh dari Indramayu begitu tiba di Al-Zaytun sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan tak bisa langsung mengikuti acara. Mreka harus pulang karena acaranya ditunda. Kalau tidak memiliki jiwa besar untuk menjadi bagian pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin pastilah akan patah arang. Tetapi itu tidak terjadi, mereka tetap datang lagi begitu diundang. Dengan ikhlas dan Antusias menyambut Program JAMMAS.



Three-red-handdrawn-down-arrows


Selasa, 23 Juni 2015

Masjid Rahmatan Lil Alamin dilihat dengan menggunakan Google Earth

Pembangunan penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin terus dilakukan dari hari ke hari. 

Pembangunan saat ini untuk penyelesaian Kubah utama dan kubah pelengkap yang akan dilapisi dengan Emas 24 karat. Sehingga nantinya, Masjid Rahmatan Lil Alamin merupakan mesjid terbesar yang mempunyai kubah emas.

Masjid Rahmatan Lil Alamin ini baru rampung sekitar 25 % dari penyelesaian, nanti setelah rampung diperkirakan bisa menampung 150.000 jamah. Dibangun di atas area seluas 6,5 hektar dan memiliki 7 lantai yang berukuran 99 x 99 meter. Lantai ketujuh disebut sebagai atap masjid, satu-satunya masjid yang atapnya  bisa menampung kurang lebih 4000 jamaah. 

Selain itu Masjid Rahmatan Lil Alamin ini memiliki lima buah kubah : satu kubah yang besar yang dikelilingi oleh empat kubah yang lebih kecil seperempat lingkaran, Empat kubah kecil itu merupakan simbol dari empat mazhab besar di dunia : Hanafi, Maliki, Safi'i dan Hambali. 

Sedangkan kubah besarnya merupakan risalah Muhammad yang menaungi keempat mazhab tadi. Dan pada setiap puncak sudut masjid terdapat delapan kubah yang melambangkan delapanpenjuru mata angin sebagai simbol seluruh penjuru dunia.
Nah, gambar di atas merupakan gambar kubah Masjid Rahmatan Lil Alamin yang dilihat dengan menggunakan Google Earth.




Three-red-handdrawn-down-arrows


Sabtu, 13 Juni 2015

Masjid Rahmatan Lil-Alamin : Sebuah Karya Agung Umat Islam Bangsa Indonesia Di Abad Ini

Masjid Rahmatan Lil Alamin ini awal pembangunannya dimulakan pada tanggal 5 April 2000. Terletak di Kampus Al Zaytun tepatnya di Desa Mekarjaya Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu Jawa Barat. 

Masjid ini baru rampung sekitar 25 % dari penyelesaian, nanti setelah rampung diperkirakan bisa menampung 150.000 jamah. Dibangun di atas area seluas 6,5 hektar dan memiliki 7 lantai yang berukuran 99 x 99 meter. Lantai ketujuh disebut sebagai atap masjid, satu-satunya masjid yang atapnya  bisa menampung kurang lebih 4000 jamaah. 

Selain itu masjid ini memiliki lima buah kubah : satu kubah yang besar yang dikelilingi oleh empat kubah yang lebih kecil seperempat lingkaran, Empat kubah kecil itu merupakan simbol dari empat mazhab besar di dunia : Hanafi, Maliki, Safi'i dan Hambali. 

Sedangkan kubah besarnya merupakan risalah Muhammad yang menaungi keempat mazhab tadi. Dan pada setiap puncak sudut masjid terdapat delapan kubah yang melambangkan delapanpenjuru mata angin sebagai simbol seluruh penjuru dunia.

Masjid ini mempunyai total ketinggian 73.125 meter hingga ke puncak kubah, dimana dari setiap lantai jamah bisa melihat imam di mihrab, mihrabnya sendiri memiliki tinggi 15 meter. Konstruksi, pondasi dan interior masjid ini dirancang bisa tahan ratusan hingga ribuan tahun. 

Pondasi masjid ini dirancang tahan gempa karena menggunakan pondasi kapal atau oleh kalangan insinyur sipil disebut raft Pondation. Cara kerjanya: tatkala terjadi gempa bumi, masjid seolah-olah sepertia kapal yang berada diantara buaian gelombang air laut. Sementara struktur pondasinya menggunakan pakubumi. Kerangka Masjid ini menggunkan baja berkualitas terbaik di dunia yang di impor dari Polandia, Rusia dan Korea. Jumlah tiang baja yang digunakan sebagai struktur mencapai 4.117 tiang baja, terdiri dari 3.812 baja WF dan 305 baja H.300.


Masjid Rahmatan Lil-Alamin ini bergaya tradisonal kontemporer. Desainnya mencakupi masjid-masjid di seluruh dunia. Bentuk lengkungan pada mihrab misalnya mengadopsi lengkungan maqsura masjid Cordoba yang dibangun oleh Umayyah. Sedangkan bentuk lengkungan pada empat gerbang utama masjid mengadopsi lengkungan yang lazim digunakan pada masjid di Mesir yang dibangun oleh Fatimiyah. Dan sebagai prasyarat untuk ketahannya digunakan bahan granit. "Granit bisa tahan ratusan bahkan ribuan tahun".


Masjid ini rencananya memiliki empat menara namun yang akan diselesaikan satu menara terlebih dahulu. Nama menaranya adalah Menara Pemuda dan Perdamaian.  Menurut beberapa kalangan, menara masjid ini akan menjadi menara masjid yang tertinggi di Indonesia, tinggi menara tersebut 136,8 meter. Bandingkan dengan tinggi Mona yang 115 meter dan Menara Masjid Agung Surabaya yang 99 meter. Bahkan menara ini lebih tinggi daripada Menara Masjid Nabawi yang 105 meter.


Tidak seperti umumnya masjid-masjid di Indonesia yang dibangun atas bantuan dari Timur Tengah, dan kita semestinya bisa berbangga bahwa pembangunan masjid Rahmatan Lil-Alamin ini murni dari biaya urunan / patungan dan diarsiteki oleh anak bangsa Indonesia sendiri. Akhir Desember 2014, Syeikh Al Zaytun AS. Panji Gumilang mencanangkan program untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil-Alamin ini yang bernama JAMMAS (Jahe Ma'had Al Zaytun Membangun Masjid) yaitu dengan menanam jahe yang nanti hasilnya digunakan untuk menyelesaikan pembangunan Masjid RLA (Rahmatan Lil-ALamin). 

Sungguh suatu  cara yang elok dan elegan yang kiranya bisa menjadi inspirasi buat kita semua. Bagi siapa saja yang berminat mendonasikan hartanya yang diberikan Allah untuk ikut andil dalam penyelesaian masjid RLA ini semoga Allah membalas amal perbuatannya dengan pahala yang berlipat ganda.


Beberapa Hadist tentang keutamaan Membangun Masjid :

“Barangsiapa yang membangun sebuah masjid kerena mengharap ridha Allah SWT maka Allah akan membangun untuknya seperti yang telah ia bangun dalam surga.” (HR Bukhari dan Muslim) (Sumber : http://www.kompasiana.com)



Three-red-handdrawn-down-arrows


Selasa, 09 Juni 2015

Cara Al Zaytun Menggalang Dana Untuk Pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin

Seperti kita ketahui bahwa membangun masjid untuk kepentingan ibadah dan pendidikan pasti harus menggunakan biaya yang tidak sedikit. Mereka biasanya mencari dana dengan berbagai cara dari meminta sumbangan kepada warga yang ada di sekitar hingga meminta-minta di jalanan. 

Tapi ada yang unik yang dilakukan oleh Pondok Pesantren terbesar di Indramayu Jawa Barat yakni Pondok Pesantren Al Zaytun untuk mencari dana untuk pembangunan masjid terbesar di Jawa Barat ini.

Mereka mengumpulkan dana pembangun masjid selain meminta sumbangan dari para santrinya dengan cara yang disebut dengan Jammas (Jahe Membangun Masjid). Dengan program ini pengelola Pesantren menanam jahe setelah besar dan bisa dipanen, hasilnya bisa digunakan untuk pembangunan masjid.


Selain Jammas, ada juga Japale (Jahe Padi Kacang Kedelai), mereka menanam jahe padi dan kedelai, setelah panen hasilnya bisa digunakan untuk pembangunan masjid dan keperluan pondok lainnya. Seperti diungkap Pak Hernawan Setia salah satu wali santri pondok pesantren Al Zaytun Indramayu kepada kami. 

Al Zaytun memang terkenal sebagai penghasil sayur-sayuran di wilayah Indramayu. Tidak heran jika hasilnya kini memenuhi pasar-pasar yang ada di sekitarnya seperti Pasar Haurgeulis, Patrol dan ada pula yang dikirim ke supermarket-supermarket di kota besar. 

Cara ini bisa ditiru oleh panitia pembangunan masjid di seluruh Indonesia. Cara ini dianggap elegan dan lebih bermartabat dibandingkan harus menadahkan seser (jaring ikan) di jalan-jalan besar atau kecil yang terkadang mengganggu perjalanan seseorang.(Sumber : www.bloggermangga.com)



Three-red-handdrawn-down-arrows BANNER FREE MEMBER

Senin, 08 Juni 2015

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin Monumen Milenium Ketiga


Ma’had Al-Zaytun (MAZ) benar-benar merubah paradigma berpikir khalayak ramai dari anggapan bahwa pesantren itu kumuh menjadi pesantren itu bersih, megah, gagah dan modern. Segagah sejarah pesantren yang mampu bertahan melintasi berbagai tantangan dari sejak beberapa abad lalu hingga kini.

Semua bangunan gedung di ma’had modern komprehensif ini bukan hanya bersih, megah dan gagah untuk sesaat, melainkan dibangun berdaya tahan lebih lima ratusan tahun bahkan bisa puluhan abad, setara bangunan-bangunan monumental di dunia, yang sudah mengukir sejarah pada zamannya. Terutama bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang merupakan induk dari semua karya besar yang menumental di ma’had ini, yang kelak diyakini akan diukir sejarah sebagai simbol kebesaran dan kebangkitan bangsa ini.

Gaya arsitekturnya pun merupakan perpaduan menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini. Gaya arsitektur bernilai estetika universal, yang di ma’had ini disebut sebagai gaya arsitektur rahmatan Lil ‘alamin.
Pendek kata, MAZ yang semua bangunan dan kegiatannya berpusat pada Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, dibangun sebagai sebuah kawasan pendidikan terpadu yang monumental dalam abad 21 ini. Hingga kelak, sampai  berabad-abad ke depan, MAZ akan dicatat sejarah menjadi sebuah monumen fenomenal milenium ketiga.

Diyakini, kelak, bagi generasi berikutnya, monumen ini akan bernilai sejarah setara dengan bangunan-bangunan monumental dunia yang sudah tercatat dalam sejarah zamannya masing-masing. Seperti, bangunan monumental Islam kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Juga bangunan-bangunan monumental Romawi, Mesir, Dinasti Cina klasik, kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang bersejarah dan mampu bertahan ratusan sampai ribuan tahun.

Setiap bangunan yang didirikan di MAZ, diprogram harus memenuhi persyaratan pokok yakni berdaya tahan lama, aman untuk difungsikan sesuai hajat ma’had. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul pembebanan yang terjadi baik pembebanan vertikal maupun horizontal dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.

Dalam hal sistem kontrol mutu bangunan dilakukan dengan sistem pengendalian sumber daya yang disebut BMW, singkatan dari biaya, mutu dan waktu. Semua dikontrol sejak awal, baik mutu manusia, mutu bahan bangunan maupun mutu peralatan bangunannya.

Salah satu hal yang amat menarik dalam proses dan sistem pembangunan di Ma’had Al-Zaytun, semua dilakukan oleh tenaga profesional ma’had sendiri yang teruji handal dan memegang prinsip ibadah, akhlak dan amanah. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen internal yang terpadu dan terkendali tanpa batas waktu, 24 jam setiap harinya.

Dengan manajemen pembangunan seperti ini, bukan saja kualitas bangunannya yang bisa dijamin, juga soal pembiayaannya yang jauh lebih rendah, 1 : 3. Artinya, pembiayaannya hanya 1/3 dari biaya jika dikerjakan secara konvensional. Maklum, di MAZ ini selain tidak ada birokrasi yang panjang dan berbelit, juga dijamin tidak ada korupsi.

Sistem manajemen dan proses pembangunan di MAZ ini tidaklah asal ada dan asal jadi. Sejak awal Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) telah merencanakannya sedemikian matang. Kemudian dibentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei 1995. Tim pembangunan itu menerima amanah untuk bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang dihajatkan sebagaimana telah direncanakan dalam bentuk master plan Ma’had Al-Zaytun. Master plan itu ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang, selaku grand architect-nya.

Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, untuk memperkuat perencanaan, termasuk bidang arsitektur, Tim Ma’had Al-Zaytun yang langsung dipimpin oleh Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang, dengan anggota tim M Natsir Abdul Qadir, M Yusuf Rasyidi dan Ir Bambang Abdul Syukur, melakukan studi banding ke Eropa, khususnya ke Andalusia. Studi banding ini, selain menyangkut hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan pada umumnya, juga secara khusus menelusuri lengkung-lengkung arsitektur dunia yang mengundang kekaguman umat manusia sampai ratusan tahun.

Kunjungan itu telah pula memperluas wawasan dan memompakan spirit yang lebih besar serta meresapkan sentuhan-sentuhan keindahan karya-karya besar arsitektur klasik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ma’had ini. Semua masukan itu memberi kekayaan ide arsitektur bernilai karsa dan estetika tinggi dan universal dalam rancang bangun gedung-gedung di Ma’had Al-Zaytun, terutama rancang bangun Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin.

Maka jika mengamati seluruh konstruksi dan arsitektur bangunan di ma’had ini, terutama rancang bangun dan arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, tak berlebihan bila perencana dan arsitek di MAZ ini dapat disejajarkan dengan arsitek Abbasiyah yang membangun kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Atau Salman al-Farisi yang merancang pembuatan khandaq (parit) yang mengelilingi kota Madinah.
Sebagaimana karya arsitek Abbasiyah dan Salman al-Farisi yang dicatat dalam sejarah zamannya masing-masing, begitu pula karya tim perancang pembangunan MAZ ini kelak pantas dicatat sejarah zamannya yang membangun bangunan-bangunan monumental yang kelak menjadi bukti sejarah kebangkitan Islam dan kebangkitan bangsa ini.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin

Masjid adalah inti dan pusat kegiatan seluruh penghuni Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Di kampus ini santri dilatih dan dibiasakan hidup beribadah, melaksanakan salat baik itu Isya, Subuh, Zuhur, Asar dan Magrib secara berjamaah, sekaligus berdisiplin dalam tradisi kepesantrenan, namun hidup dalam suasana dan manajemen modern.

Untuk itu pertama kali dibangun Masjid Al-Hayat, sebagai masjid persiapan I’dadi, di atas tanah seluas 5.000 m2 berlantai tiga berdaya tampung kurang lebih 7.000 jamaah. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1 Januari 1999 dan pengerjaannya selesai dalam kurun waktu 3 bulan. Kemudian, sehubungan pesatnya pertambahan jumlah santri dan penghuni MAZ menyebabkan Masjid Al-Hayat sudah tidak mampu lagi menampung jamaah, baik pada hari-hari biasa maupun Jumat.

Sehingga MAZ harus secepatnya membangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Rahmatan Lil ’Alamin. Masjid ini berdiri di atas tanah 6,5 hektar, berukuran seluas 99 x 99 m berlantai 6 (enam), yang dapat menampung 150.000 jamaah. Sebuah masjid terbesar di dunia. Masjid yang tengah dibangun ini memerlukan biaya kurang lebih 14 juta dollar Amerika atau sekitar Rp 135 milyar. Setelah Masjid Rahmatan Lil ’Alamin digunakan, bangunan Al-Hayat akan difungsikan menjadi perpustakaan MAZ.


Peletakan batu asas masjid Rahmatan Lil ’Alamin  dilakukan pada tahun baru Hijriah 1 Muharam 1421 H oleh R Nuriana, Gubernur Jawa Barat saat itu. Pembangunan masjid ini boleh dibilang merupakan satu tonggak sejarah pembangunan sebuah simbol dan monumen kebesaran umat Islam di negeri ini. Di samping memiliki areal yang luas dengan daya tampung yang besar, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, juga mempunyai seni artistik yang tinggi, ditambah dengan dom (kubah) yang besar yang dilapisi bahan seperti emas yang maknanya agar Indonesia dapat tampil berkualitas emas.

Suasana saat berlangsungnya pelaksanaan acara peletakan batu asas tersebut begitu meriah. Selain Gubernur Jawa Barat turut hadir pula seluruh Kepala Daerah Tingkat dua yang ada di Jawa Barat, juga kelompok-kelompok pengajian yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dan para undangan dari dalam negeri serta dari negeri jiran Singapura dan Malaysia, ditambah ribuan masyarakat yang ingin berpartisipasi bersodaqoh untuk pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Kemudian, peletakan batu pertama masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini dilangsungkan setelah masa 100 hari sejak dimulainya perletakan batu asas. Bermakna bahwa selama 100 hari setiap tamu yang berkunjung ke MAZ diperkenankan untuk ikut andil meletakan batu asasnya.

Sebagai simbol keberadaan umat Islam, sudah barang tentu apabila pembangunan sebuah masjid menggambarkan nilai-nilai keimanan dan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana diuraikan oleh Syaykh al-Ma’had Dr Abdussalam Panji Gumilang dalam penjelasannya mengenai filosofi pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Luas bangunan 99 x 99 m merupakan filosofi dari sifat-sifat Allah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99. Bila diputar ke arah mana saja, angka ini tidak akan pernah berubah, bermakna selalu punya nilai yang sama yaitu 99. Sedangkan, filosofi enam lantai masjid adalah Arkanul Iman, rukun iman yang berjumlah enam. Keenam lantai tersebut secara keseluruhan mempunyai ketinggian 33 m yang mempunyai filosofi jumlah tasbih, tahmid dan takbir setelah salat. Tinggi tiang masing-masing lantai lima meter, ini mempunyai filosofi Arkanul Islam, rukun Islam yang berjumlah lima.

Selain memiliki kubah yang besar masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga dilengkapi dengan kubah yang kecil sebanyak empat buah. Filosofinya sebagai perwujudan bahwa Indonesia mengenal berbagai madzhab. Juga mempunyai menara yang tingginya 68 m, dengan luas lantainya 24x 24 m, ini filosofinya adalah Al-Khulafa al-Rasyidun.

Pada kesempatan peletakan asas itu juga bagi seluruh undangan baik itu kelompok ataupun perorangan yang ingin bersodaqoh, diminta tampil ke atas panggung dengan menyebutkan berapa banyak jumlah yang ingin disodaqohkan baik itu berupa uang ataupun semen. Setelah itu, mereka semua ikut berpartisipasi dalam perletakan batu asas. Dari sodaqoh para undangan tersebut diperoleh dana yang besarnya puluhan milyar rupiah bahkan hampir mendekati jumlah dana yang dianggarkan yaitu sebesar 14 juta dolar AS (Rp 135 milyar).

Dimulai dari Jakarta yang menamakan kelompok pengajian Falatehan Jayakarta bersodaqoh 3.000 tiang, atau sebesar 30 milyar rupiah. Kemudian kelompok pengajian Parahiyangan Bandung bersodaqoh 1.000 tiang, atau sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok Ronggo Warsito Jawa Tengah bersodaqoh sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok pengajian Tombo Ati Jawa Timur bersodaqoh sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok Pengajian Sunan Gunung Jati Cirebon bersodaqoh sebesar 2,5 milyar rupiah, Malaysia RM 12.000 atau sebesar 3,5 milyar.

Kemudian, kelompok pengajian Lancang Kuning Riau bersodaqoh sebesar 30 juta rupiah. Kelompok pengajian asal Lampung 50 juta rupiah, kelompok pengajian Bali 20 juta rupiah, dan kelompok pengajian Sumatera Barat 20 juta rupiah. Kelompok pengajian Sumatera Selatan 50 juta rupiah. Kelompok pengajian Kalimantan Timur 20 juta rupiah.

Kelompok pengajian Timor Lorosae 10 juta rupiah, dan kelompok pengajian NTB 30 juta rupiah. Kelompok Pengajian Jambi 20 juta rupiah. Wali santri asal Kalimantan Selatan 300 sak semen. Kelompok pengajian Bengkulu 26 juta rupiah. Kelompok pengajian Kalimantan Barat 20 juta rupiah. Eksponen yayasan 250 tiang atau sebesar 2,5 milyar. Keluarga Bapak Salim 120 juta, dan masih banyak lagi yang kesemuanya ini tentunya merupakan perwujudan kebesaran dan kesatuan umat Islam.

Arsitektur Dunia

Pelaksanaan pembangunan masjid ini dilakukan dengan telaten. Untuk sistem pondasi, misalnya, dibuat dengan sistem pondasi kapal. “Sebenarnya, nama resminya raft foundation atau pondasi rakit. Namun, kalau rakit maknanya kecil maka kami sempurnakan menjadi pondasi kapal,” jelas Ir Djamal M Abdat, Pimpinan Tanmiyah MAZ.

Sementara, untuk menyempurnakan desain Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, Syaykh al-Ma’had, langsung memimpin tim beranggota M Natsir Abdul Qadir, M Yusuf Rasyidi dan Ir Bambang T Abdul Syukur, pada akhir Oktober melakukan perjalanan ke Spanyol untuk melihat secara langsung model arsitektur di Al-Hambra, Cordoba yang terkenal itu. Kemudian ke Mesir, untuk melihat model bangunan arsitektur masjid-masjid bersejarah yang punya nilai arsitektur yang tinggi.

Dalam aplikasi gaya arsitektur, semuanya dipertimbangkan secara matang. Gaya itu harus punya nilai estetika universal, tidak cenderung kepada suatu etnik lokal atau antipati terhadap nilai-nilai estetika tertentu. Syaykh al-Ma’had selalu berpesan, tidak ada dikotomi arsitektur Islam, gothic atau tradisional.

Arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dibuat dengan memadukan model arsitektur di seluruh dunia. Hal ini dilakukan karena Masjid Rahmatan Lil ’Alamin akan menjadi sebuah masjid monumental karya umat Islam di abad 21 ini akan menjadi rahmat bagi semua orang. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini.

Bahkan, rencananya masjid ini akan dilapisi oleh granit, mulai seluruh lantai dan dindingnya. “Untuk keperluan ini tak kurang dari 70.000 meter persegi granit yang dibutuhkan”, jelas Syaykh al-Ma’had. Dan sesuai dengan namanya Rahmatan Lil ’Alamin, masjid yang akan menebar rahmat, menebar kasih hingga akan tercipta hubungan silaturahmi yang tidak ada putus-putusnya.

Sepenggal Pengalaman Pekerja

Barangkali menarik dikisahkan sepenggal pengalaman para pekerja kontruksi yang terlibat dalam pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini. Terutama mereka yang bekerja di ketinggian ketika merangkai kerangka lengkung struktur pembentuk kubah besar masjid ini. Bekerja di ketinggian bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarang orang. Orang yang takut ketinggian jangan harap bisa melakukannya. Selain itu, mereka harus memiliki ketahanan mental dan fisik, sebab pada ketinggian 40 meter ke atas, angin berhembus lebih kencang daripada di daratan. “Di ketinggian 15 meter saja angin sudah kencang,” kata salah seorang karyawan MAZ sub unit erection


Sekadar pembanding, memanjat sebuah tower transmisi listrik saja sudah memerlukan tenaga besar. Sampai di atas bukan tujuan akhir melainkan hanya sebuah langkah awal. Di ketinggian itu mereka mesti melakukan pekerjaan spesifik yang terkadang dilakukan sambil berdiri di atas sebatang besi kerangka. Begitu pula dalam proses ereksi kerangka bangunan yang di MAZ seluruhnya menggunakan baja WF. Terkadang seorang petugas mesti bergelayutan di rangka-rangka baja yang sedang dikerek tower crane.

Pemandangan menegangkan begitu terasa ketika para petugas sub unit erection tengah merangkai kerangka-kerangka lengkung struktur pembentuk kubah besar mesjid ini. Bayangkan mereka harus bergelayutan dan memanjat baja WF lengkung sepanjang 24 m di atas ketinggian 80 m untuk menyambung belalai-belalai WF pembentuk kubah besar itu. Atau ketika harus mengencangkan baut-baut perangkai dan kemudian mengelasnya.

Menurut A Daud yang sejak awal menjadi komandan unit pabrikasi, setiap pekerja di unitnya dituntut mampu mengelas, sebab semua rangkaian konstruksi baja, selain diikat dengan baut mesti diperkuat dengan sambungan las. Pada saat-saat seperti ini keseimbangan tubuh menjadi vital. Salah, tak seimbang atau grogi, nyawa menjadi taruhannya. Bagi orang yang takut ketinggian, jangankan untuk merangkai struktur baja yang beratnya berton-ton, berdiri di sebatang WF saja pasti sudah gemetar. Terlalu lama, keringat dingin bisa mengucur.

Tak salah jika para pekerja spesialis perangkai konstruksi baja merupakan para pekerja yang betul-betul sudah teruji. Sebagai contoh, di sub unit erection MAZ, seseorang yang diperkenankan bekerja di ketinggian telah melalui proses seleksi alam. Pertama sekali jika mampu bekerja merangkai baja hingga satu lantai, ditingkatkan hingga dua lantai. Begitu seterusnya. Menurut salah seorang karyawan unit ini, suatu ketika salah seorang rekan berkeringat dingin, padahal baru di ketinggian dua lantai.

Komandan unit yang bijaksana akhirnya memutuskan rekan tersebut tak lagi bertugas di ketinggian. Keputusan seperti itu menjadi bagian terpenting dalam proses pekerjaan konstruksi. Bagaimanapun, keselamatan kerja tak boleh terabaikan. Terkadang kelalaian kecil berakibat besar. Satu baut kendur, terkadang harus dibayar dengan kecelakaan kerja. Jelas, hal-hal seperti itu mesti diantisipasi dengan sebuah sistem. Maka, sebelum memulai pekerjaan setiap komandan sub unit tak boleh alpa mencek kesiapan personil dan peralatan kerja yang digunakan mengingat wilayah kerja unit ini berisiko tinggi.
Setelah melihat keanggunan dan keagungan masjid ini, meski belum rampung seluruhnya, hasil jerih payah para pekerja itu terasa menjadi suatu kebanggaan dan kehormatan yang nilainya lebih besar dari jerih payah dan segala risiko yang mereka hadapi itu.

Masjid ini adalah sebuah karya besar yang patut dicatat sebagai simbol kebangkitan bangsa ini. Bahkan lebih dari itu, sebagai simbol pengagungan dan ketaqwaan manusia kepada Allah.

Kini (Juni 2005), kendati belum rampung, masjid yang direncanakan mampu menampung 150 ribu jamaah itu telah digunakan dalam berbagai acara besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, peringatan 1 Muharram dan acara-acara besar lainnya.  Dalam acara-acara itu pulalah dilakukan penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dari jamaah yang hadir.

Master Plan dan Sistem Manajemen

Semua proses pembangunan prasarana dan sarana di Al-Zaytun bermula dan berpedoman pada master plan yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had. Kebersamaan atau team work adalah hal yang menonjol dan mutlak di ma’had ini. Team work yang taat pada suatu sistem dengan segala pranatanya mulai dari yang tertinggi sampai terendah.

Semua eksponen, termasuk karyawan pembangunan, sangat menyadari dan memahami bahwa keberadaannya dalam suatu tim kerja adalah untuk ibadah kepada Allah, dan sepatutnya berakhlakul karimah baik kepada pimpinan, sahabat, bawahan maupun juga terhadap material dan peralatan pembangunan serta terhadap waktu. Di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had, yang bijak dan kebapakan, setiap eksponen memahami fungsi dirinya masing-masing dalam tugas dan tanggung jawabnya terhadap amanah yang diberikan kepadanya.

Sistem manajemen yang diterapkan di MAZ ini tidak sekadar sistem manajemen modern yang sudah teruji ampuh di tempat lain, melainkan lebih daripada itu, sistem manajemen yang dinaungi dan dibekali kedalaman iman dan taqwa. Sistem nanajemen yang berpegang pada ibadah, akhlak dan amanah. Manajemen Ilahiyah yang bermakna manajemen tauhid atau manajemen terpadu dalam satu kesatuan sistem. Tahapan-tahapan pembangunan proyek mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen terpadu dan terkendali.

Dalam sistem manajemen demikian itu, Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) sebagai induk organisasi Ma’had Al-Zaytun, pertama kali membentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei 1995. Tim inilah sebagai penerima amanah yang bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang direncanakan dalam master plan Ma’had Al-Zaytun yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had.

Kemudian dibentuk Tim Pelaksana Pembangunan yang disebut sebagai Tim Tanmiyah. Tim Tanmiyah ini dipimpin oleh seorang ahli beranggotakan delapan tim pembangunan, terdiri dari arsitek, teknik sipil, mekanik dan kelistrikan serta dilengkapi beberapa penanggung jawab kepersonaliaan. Sementara untuk pelaksana di lapangan ditunjuk beberapa insinyur muda, mendukung tim inti yang juga turun ke lapangan sesuai keperluannya.

Tim Tanmiyah ini bekerja secara terpadu dan terkendali selama  24 jam setiap hari, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan. Dengan sistem manajemen terpadu 24 jam, maka setiap instruksi tertangani secara cepat dan tepat. Selama 24 jam para karyawan mencurahkan tenaga mereka untuk menyempurnakan azam umat: sesuai maklumat Ma’had Al-Zaytun membangun monumen umat Islam yang akan dihadiahkan untuk umat Islam sedunia.

Pertama kali, Ir Djamal M Abdat, ditetapkan sebagai Rois ‘am Tim Tanmiyah, Ir Djamal M Abdat sebagai pemimpin tim dan dianggotai oleh Ir Asrur Rifa, Ir Bambang A.Syukur,  Ir Abdurrahman, Ir A Hanif dan Ir Armand AR dilengkapi personalia terdiri dari Abbas Ali Nasution selaku koordinator bersama Usman Azhari dan Rahmat Ramadhan.

Tenaga-tenaga profesional yang tergabung dalam tim pembangunan ini mengerjakan sendiri semua pekerjaan. Sejak awal antara konsultan dan kontraktor dibuat menyatu. Tidak dikenal main contractor dan sub contractor. Dengan sistem manajemen pembangunan seperti itu, banyak mata rantai yang diputus, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang yang tidak seharusnya dibelanjakan. Semuanya dikerjakan sendiri. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri, di-erection sendiri.

Sistem seperti ini terbukti mempunyai banyak keunggulan dan keuntungan dibandingkan dengan sistem proyek pembangunan yang lazim di luar MAZ. Selain untuk menghemat biaya juga menjaga mutu. Untuk setiap bangunan, biayanya hanya sepertiga dari biaya bangunan jika itu dikerjakan oleh kontraktor luar.
 
Juga unggul dari segi efisiensi waktu. Contohnya, ketika merencanakan Masjid Al-Hayat hanya membutuhkan waktu satu pekan, pelaksanaan pembangunannya pun hanya 100 hari. Bandingkan dengan kebiasaan di tempat lain, untuk perencanaan bangunan saja paling tidak membutuhkan waktu dua kali dari lama pelaksanaan pembangunan bangunan itu sendiri.

Dengan penghematan itu, dana bisa dipergunakan untuk membeli bahan-bahan material yang berkualitas. Dalam hal ini, tanmiyah sangat selektif memilih bahan material. Sebagaimana dijelaskan oleh Djamal M Abdat, Rois ‘am Tanmiyah, yang bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik secara keseluruhan, bahwa pihaknya tidak mau menggunakan bahan yang tidak berkualitas.

Dalam hal pengadaan material pun selalu dibeli dalam partai besar, sehingga biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih murah. Biasanya, pembelian tidak hanya untuk kebutuhan satu proyek bangunan. Sebab pembangunan di ma’had ini terus berlanjut sampai kebutuhannya tercakup. Maka, tatkala membeli besi atau baja, atau material jenis lain, tidak pernah khawatir akan terbuang, pasti dimanfaatkan.

Selain itu, yang juga membuat murah, semua bahan-bahan dibeli dalam bentuk bahan baku. Bahan baku atau bahan mentah itu kemudian diolah kembali oleh karyawan-karyawan ma’had yang memang sudah berpengalaman. Besi dan baja dipabrikasi sendiri, lalu erection juga dilakukan sendiri. Begitu pula untuk bahan-bahan perkayuan. Semua komponen bangunan seperti daun pintu, kusen, furniture dan khususnya isi bangunan (meja, kursi, papan tulis dan partisi) dikerjakan sendiri.

Dengan sistem manajemen seperti itu, setiap bangunan yang didirikan di MAZ memenuhi persyaratan pokok berdaya tahan lama. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul beban dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.

Dalam hal sumber daya manusia, pada waktu proyek dimulai, hanya sembilan orang. Kemudian sesuai dengan kebutuhan pembangunan kini telah mencapai lebih 2.500 orang. Terbagi dalam 28 unit karyawan, masing-masing fungsinya berbeda. Jumlah ini tidak statis tapi dinamis artinya bisa berubah sesuai kebutuhan. Bisa bertambah bisa berkurang. Jika pekerjaan di suatu unit sudah selesai maka karyawannya akan diperbantukan ke unit lain yang sedang mengejar target penyelesaian.

Seluruh karyawan tinggal di sekitar lokasi proyek. Setiap pagi mereka menerima amanah dari insinyur pelaksana. Malam hari, melakukan evaluasi tentang progres yang telah dicapai. Sehingga setiap saat, semua pekerjaan menjadi terkontrol. Hampir tidak ada mandor yang harus berada di lokasi proyek setiap saat. Artinya, walaupun pimpinan unit sedang tidak ada di lokasi proyek, seluruh program harian tetap berjalan semestinya. “Mandor mereka adalah Alquran, di tangan mereka alat kerja, di kantong mereka ada Alquran, minimal kitab Juz’ Amma”, kata Syaykh al-Ma’had. Mungkin saat ini, sistem ini satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia.

Setiap pekerja mendapat kesempatan untuk bekerja di semua unit. Dengan demikian semua karyawan diharapkan punya keahlian yang bermacam-macam. Suatu saat mereka mengaduk semen, pada saat lain mereka juga harus bisa mengemudikan dozer atau membuat furniture. Besok bisa jadi tukang batu, lusa bisa di kantor memegang komputer. Jadi, harus di-rolling supaya hidup, tidak membosankan. Di sini setiap unit sama, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah antara petugas yang mengecor, menyapu atau yang duduk di depan komputer. Semua nilainya sama, yang membedakan adalah ketaqwaan.

Pengadaan dan Pemanfaatan Material

Kualitas bangunan juga dimulai dari perencanaan material. Kekuatan bangunan bergantung kepada kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi bangunannya. Untuk bangunan yang diprogram akan bertahan berabad-abad, bahan-bahan dasarnya harus berkualitas. Dan untuk lebih menjamin kualitas bahan-bahan material itu, sejak awal dilakukan kontrol mutu, mulai dari pengadaannya sampai pemanfaatannya.

Material konstruksi yang digunakan meliputi material baja profil, baja tulangan dan material beton yakni campuran material semen, pasir, kerikil dan air. Material arsitektur meliputi material untuk lantai dan tangga seperti keramik, untuk dinding berupa batu, cat, kayu, kusen, kayu pintu, jendela dan kaca. Adapula material untuk plafond seperti tripleks, gypsum serta material atap berupa genteng dan alumunium. Material plumbing meliputi instalasi pipa-pipa air bersih dan air kotor, pipa hidrant, kran wastafel, kloset, dan lainnya. Dan untuk material elektrikal meliputi instalasi kabel-kabel, pipa-pipa listrik, dan lampu-lampu.

Untuk baja konstruksi, digunakan baja tulangan dan baja profil yang masih harus didatangkan dari Korea, Jepang, Polandia dan Rusia. Soalnya, ketika pernah dicoba menggunakan baja WF lokal hasilnya sangat tidak memuaskan, belum apa-apa sudah melengkung. Baja tulangan yang digunakan berdiameter mulai 6 mm hingga 32 mm. Sedangkan untuk baja profil menggunakan bentuk-bentuk seperti wide flange (sayap lebar) berdimensi tinggi 200 mm hingga 450 mm, Canal Cnp berdimensi tinggi mulai 75 mm hingga 150 mm, siku berukuran 30 mm hingga 100 mm dan juga plat baja berukuran tebal mulai 2 mm hingga 15 mm.

Sedangkan untuk kekuatan lantai bangunan digunakan pelat lantai beton bertulang dengan kualitas betonnya 300 kg per cm persegi. Pelat lantai tersebut dipikul oleh balok lantai dengan menggunakan baja profil sayap lebar (wide flange) dengan kekuatan tegangannya bernilai 4.100 kg per cm persegi.
Suatu hal yang patut dicatat bahwa semua pengadaan material adalah bahan baku. Kemudian diolah sendiri menjadi bahan material jadi. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri dan di-erection sendiri. Dalam pabrikasi baja baik pemotongan, pengelasan maupun pelubangan (pons) dan rolling plat baja seluruhnya menggunakan teknologi Ma’had sendiri. Teknologi pembesian memanfaatkan peralatan yang disebut bar cutter dan bar bending machine untuk memotong dan membengkokkan besi tulangan sesuai kebutuhan.

Semua itu dikerjakan sendiri oleh unit kerja pabrikasi yang bertanggung jawab mengenai konstruksi baja dan pembesian, dari mulai bahan baku sampai menadi bahan yang siap dipasang menjadi konstruksi bangunan di Ma’had Al-Zaytun. Untuk bisa memenuhi target yang diprogramkan oleh yayasan tepat waktu, sistem kerja yang diterapkan bagian pabrikasi berbeda dengan unit-unit yang lain yakni memberlakukan dua shift, bekerja 24 jam siang dan malam.

Di samping memberlakukan sistem kerja 24 jam, tenaga kerja unit pabrikasi pun mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya serta berpengalaman dalam pembesian sebelumnya.

Begitu pula dalam pemasangan konstruksi baja menggunakan alat power winch. Dalam pengeboran air menggunakan mesin bor sumur (drilling machine) pada submersible pump (pompa sumur dalam). Dalam pelaksanaan pondasi pun diterapkan teknologi modern yang dioperasikan tenaga sendiri.

Dimulai dengan penggalian tanah menggunakan excavator. Setelah itu tanah diangkut dengan dump truck ke suatu tempat. Selanjutnya tanah diratakan dengan dozer sebelum dilakukan pemadatan oleh vibrator hingga diperoleh daya dukung yang kuat. Pada saat pembetonan, tim memanfaatkan truck mixer untuk menuangkan beton siap pakai. Truk ini mengambil beton siap pakai tersebut dari batching plant (pembuatan beton masak) pembuat ready mix concrete yang juga dikerjakan sendiri di kompleks Ma’had.

Oleh Ch Robin Simanullang (Berita Indonesia 01)

Masjid Rahmatan Lil-Alamin

Selain dikenal megah, bersih dan gagah, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin Ma’had Al-Zaytun (MAZ) juga diperkirakan memiliki daya tahan bangunan  ratusan tahun hingga puluhan abad yang setara dengan bangunan-bangunan monumental di dunia yang sebelumnya sudah terukir dalam sejarah.

Bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin merupakan induk dari semua karya besar yang monumental di ma’had ini, yang diyakini di masa mendatang akan mengukir sejarah sebagai simbol kebangkitan dan kebesaran bangsa Indonesia.

Bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin memiliki perpaduan gaya arsitektur secara menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini yang memiliki nilai estetika universal.

Kesimpulannya adalah Ma’had Al-Zaytun memiliki bangunan dan kegiatan yang terpusat pada Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang dibangun menjadi kawasan pendidikan terpadu yang monumental.

Dipercaya bahwa pada masa mendatang monumen ini akan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan setara dengan bangunan-bangunan monumental dunia yang bersejarah yang tentunya juga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Misalnya bangunan monumental Islam kompleks masjid Cordoba, Madinat Az-Zahra dan Istana Al-Hamra di Spanyol.

Atau bisa juga seperti bangunan-bangunan monumental Mesir, Romawi, Dinasti Cina klasik, kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang memiliki nilai sejarah tinggi dengan bangunan yang bisa bertahan hingga ratusan atau ribuan tahun.

Setiap bangunan yang didirikan di MAZ, harus memenuhi persyaratan pokok yaitu memiliki daya tahan yang lama serta aman untuk difungsikan sesuai hajat ma’had.

Setiap bangunan tersebut harus cukup kuat dan memiliki kemampuan untuk memikul pembebanan yang terjadi baik pembebanan horizontal ataupun vertikal dalam jangka waktu yang sangat lama.

Kekuatan bangunan tersebut dirancang dengan menggunakan kekuatan material (elemen-elemen) konstruksi yang berkualitas dan diproses (dikerjakan) dengan pengerjaan yang cerdas dan telaten.

Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang yang merupakan grand architect dari MAZ mengungkapkan bahwa sistem kontrol bangunan dilakukan dengan sistem pengendalian sumber daya atau biaya, mutu dan waktu (BMW).

Sistem kontrol bangunan  dilakukan sejak awal baik mutu bahan bangunan, mutu sumber daya manusia serta mutu peralatan bangunan.

Proses dan sistem pembangunan di Ma’had Al-Zaytun termasuk menarik karena semua dilakukan dengan tenaga ma’had sendiri yang sudah teruji profesional, serta memegang prinsip ibadah, amanah dan akhlak.

Misalnya mulai dari planning, proses pengerjaan, hingga pemeliharaan yang semuanya dilakukan dalam 1 manajemen internal yang terkendali dan terpadu 24 jam setiap harinya atau tanpa batas waktu.

Dengan manajemen pembangunan internal yang terpadu seperti ini maka tentu saja biaya untuk proses pembangunan bisa ditekan hingga 1:3 namun kualitas bangunan bisa tetap terjamin dengan baik.

Untuk memperkuat perencanaan dalam perkembangan selanjutnya dalam bidang arsitektur maka Tim Ma’had Al-Zaytun yang dipimpin oleh Syaykh Al-Ma’had AS Panji Gumilang dengan tim yang beranggotakan M Yusuf Rasyidi, M Natsir Abdul Qadir, dan Ir Bambang Abdul Syukur yang melakukan studi banding ke Andalusia (Spanyol) dan Eropa.

Studi banding ini dilakukan berkaitan dengan masalah pendidikan pada umumnya, serta untuk menelusuri lengkung-lengkung arsitekur dunia yang memiliki keindahan dan nilai sejarah yang tinggi.

Kubah (Dome)

Bangunan kubah (dome) dari dalam masjid dilapisi dengan menggunakan bahan emas dengan makna atau harapan supaya bangsa Indonesia memiliki kualitas seperti emas.

Kunjungan itu telah pula memperluas wawasan dan memompakan spirit yang lebih besar serta meresapkan sentuhan-sentuhan keindahan karya-karya besar arsitektur klasik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ma’had ini.

Semua masukan yang diberikan menambah kekayaan ide arsitektur yang memiliki estetika dan bernilai tinggi yang bersifat universal yang dirancang dalam bangunan gedung-gedung di Ma’had Al-Zaytun termasuk dengan rancangan bangunan Masjid Rahmatan Lil’Alamin.

Para perencana dan arsitek di MAZ bisa disejajarkan dengan para arsitek Abbasiyah yang membangun kompleks Masjid Cordoba, Madinat Az-Zahra dan Istana Al-Hamra di Spanyol maupun pembuatan parit (khandaq) yang dibuat oleh Salman Al-Farisi yang dibuat mengelilingi kota Madinah.

Hal ini dikarenakan bangunan di Ma’had ini memiliki konstruksi dan arsitektur dengan kualitas bangunan yang sejajar.

Hasil karya dari tim perancang pembangunan MAZ ini kelak akan menjadi sejarah yang sangat penting yang di masa mendatang nanti diharapkan akan menjadi bukti sejarah dari kebangkitan bangsa Indonesia dan umat Islam sebagaimana karya dari arsitek Abbasiyah dan Salman Al-Farisi yang dicatat menurut jamannya masing-masing.

Maket

Masjid Al-Hayat merupakan masjid pertama yang dibangun untuk kesiapan I’dadi berlantai 3 yang dibangun di atas tanah seluas 5.000 m2 dengan daya tampung sekitar 7 ribu jamaah.

Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 1 Januari 1999 yang proses pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar 3 bulan.

Setelah itu jumlah pertumbuhan santri dan penghuni MAZ meningkat dengan pesat sehingga hal ini membuat Masjid Al-Hayat sudah tidak bisa menampung jamaah lagi terutama pada hari Jumat.

Hal ini membuat MAZ harus membangun sebuah masjid baru secepatnya yang kemudian diberi nama Masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin berdiri di atas tanah 6,5 hektar dengan ukuran luas 99 m x 99 m yang berlantai enam dan memiliki daya tampung sebanyak 150 ribu jamaah.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin merupakan masjid terbesar di dunia yang proses pembangunannya membutuhkan biaya sebesar 14 juta Dollar AS (sekitar Rp 136 Milyar).

Nantinya bangunan Al-Hayat akan difungsikan sebagai perpusatakaan MAZ setelah Masjid Rahmatan Lil ’Alamin digunakan.

Peletakan batu asas masjid Rahmatan Lil ’Alamin dilakukan oleh R Nuriana, Gubernur Jawa Barat saat itu pada tahun baru Hijriah 1 Muharam 1421 H.

Pembangunan dari Masjid Rahmatan Lil ’Alamin bisa disebut sebagai monumen kebesaran umat Islam di Indonesia dan satu tonggak sejarah pembangunan sebagai simbol umat Islam.

Selain memiliki daya tampung jamaah yang banyak dengan areal yang luas, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga memiliki seni artistik yang sangat tinggi.

Belum lagi ditambah dengan adanya kubah (dome) yang berukuran besar dan dilapisi dengan bahan yang seperti emas dengan makna supaya Indonesia bisa tampil dengan kualitas seperti emas.

Pelaksanaan acara peletakan batu asas masjid ini sangat meriah karena dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, seluruh Kepala Daerah Tingkat dua Jawa Barat, berbagai kelompok pengajian dari seluruh Indonesia, para undangan dari Malaysia dan Singapura, serta ribuan jamaah yang ikut berpartisipasi dengan bersodaqoh untuk membantu proses pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Setelah itu peletakan batu pertama dari Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini dilakukan setelah melewati 100 hari dari dimulainya peletakan batu asas.

Hal ini dilakukan dengan makna bahwa selama 100 hari setiap tamu yang berkunjung ke MAZ diperbolehkan untuk ikut memiliki andil dalam peletakan batu asas.

Monumental


Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sehingga sudah tentu bahwa pembangunan dari masjid harus bisa menggambarkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang diuraikan dalam filosofi pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin yang disampaikan oleh Syaykh al-Ma’had Dr Abdussalam Panji Gumilang.

Bangunan masjid ini memiliki luas 99 x 99 m yang sesuai dengan Asmaul Husna atau filosofi dari sifat-sifat Allah yang berjumlah 99.

Angka ini tidak akan bisa berubah walau diputar ke arah mana saja dan akan selalu memiliki nilai yang sama yaitu 99.

Sedangkan enam lantai masjid memiliki filosofi Arkanul Iman yaitu rukun iman yang berjumlah 6.

Secara keseluruhan keenam lantai tersebut memiliki ketinggian 33 meter yang disesuaikan dengan filosofi jumlah tasbih, tahmid dan takbir setelah ibadah sholat.

Sedangkan tiang dari masjid juga disesuaikan dengan filosofi Arkanul Islam atau rukun Islam yang berjumlah 5 dengan adanya tinggi tiang masing-masing lantai lima meter.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin memiliki kubah yang besar serta kubah kecil sebanyak 4 buah yang disesuaikan dengan filosofi bahwa Indonesia mengenal berbagai madzhab.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga memiliki menara setinggi 68 meter dengan lantai seluas 24 x 24 m yang disesuaikan dengan filosofi Al-Khulafa al-Rasyidun.

Arsitektur Dunia

Pelaksanaan pembangunan masjid Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dilakukan dengan sangat teliti, misalnya untuk sistem pondasi yang dibuat dengan sistem pondasi kapal.

“Sebenarnya, nama resminya raft foundation atau pondasi rakit. Namun, kalau rakit maknanya kecil maka kami sempurnakan menjadi pondasi kapal,” ungkap Ir Djamal M Abdat, Pimpinan Tanmiyah MAZ.

Kubah Kecil

Pada bulan Oktober Syaykh al-Ma’had langsung memimpin tim yang beranggotakan M Yusuf Rasyidi, M Natsir Abdul Qadir dan Ir Bambang T Abdul Syukur lalu mengadakan perjalanan ke Spanyol untuk melihat langsung model arsitektur di Al-Hambra, Cordoba.

Setelah itu mereka melakukan perjalanan ke Mesir untuk melihat model bangunan masjid-masjid bersejarah lain yang memiliki nilai arsitektur yang tinggi.

Semua gaya arsitektur dipertimbangkan secara matang dalam pengaplikasiannya dimana gaya tersebut harus memiliki nilai estetika secara luas namun tidak antipati ataupun lebih condong pada suatu etnik local tertentu.

Syaykh al-Ma’had selalu berpesan bahwa tidak ada dikotomi arsitektur Islam, tradisional atau gothic.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin memiliki gaya arsitektur yang dibuat dengan memadukan model arsitektur di seluruh dunia.

Hal ini dilakukan karena Masjid Rahmatan Lil ’Alamin akan menjadi sebuah masjid monumental karya umat Islam di abad 21 ini yang nantinya diharapkan akan menjadi rahmat bagi semua orang.

Gaya arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin  merupakan perpaduan yang menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini.

Rencananya Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini akan dilapisi oleh granit, mulai dari dinding masjid hingga seluruh lantainya.

Syaykh al-Ma’had menjelaskan bahwa Masjid Rahmatan Lil ’Alamin membutuhkan granit sekitar 70.000 meter persegi.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin diharapkan akan sesuai dengan namanya yaitu menebar kasih dan rahmat sehingga tercipta hubungan silaturahmi yang tiada putusnya.

Kerangka

Sistem seperti ini terbukti memiliki banyak keuntungan dan keunggulan jika dibandingkan dengan sistem proyek pembangunan yang lazim di luar MAZ.

Selain untuk menjaga mutu juga bisa untuk menghemat biaya. Untuk setiap bangunan, biayanya hanya sepertiga dari biaya bangunan jika itu dikerjakan oleh kontraktor luar.

Selain itu juga unggul dalam segi efisiensi waktu. Misalnya adalah perencanaan Masjid Al-Hayat yang hanya membutuhkan waktu satu pekan sedangkan pelaksanaan pembangunannya pun hanya 100 hari.

Dengan penghematan tersebut, dana bisa dipergunakan untuk membeli bahan-bahan material yang berkualitas.

Semua komponen bangunan seperti kusen, daun pintu, furniture dan khususnya isi bangunan (kursi, meja, papan tulis dan partisi) dikerjakan sendiri.

Dengan sistem manajemen seperti itu, setiap bangunan yang didirikan di MAZ memenuhi persyaratan pokok berdaya tahan lama. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul beban dalam jangka waktu lama.

Kekuatan tersebut dirancang dengan penggunaan kekuatan material (elemen-elemen) konstruksi yang berkualitas dan proses pengerjaan yang cerdas dan telaten.

Pengadaan dan Pemanfaatan Material

Kualitas bangunan juga dimulai dari perencanaan material. Kekuatan bangunan bergantung kepada kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi bangunannya.

Untuk bangunan yang diprogram untuk bisa bertahan selama berabad-abad lamanya maka bahan-bahan dasar bangunan tersebut juga harus berkualitas.

Sejak awal harus dilakukan control mutu bahan-bahan material tersebut mulai dari pengadaan hingga pemanfaatan untuk menjamin kualitas dari bahan-bahan material tersebut.

Material konstruksi yang digunakan meliputi material baja tulangan, baja profil dan material beton yaitu campuran material pasir, semen, air dan kerikil.

Sedangkan material arsitektur meliputi material untuk tangga dan lantai seperti keramik, untuk dinding berupa batu, kayu, cat, kayu pintu, kusen, kayu pintu, kaca dan jendela.

Adapula material untuk plafond seperti gypsum, tripleks, serta material atap berupa aluminium dan genteng.

Material plumbing meliputi instalasi pipa-pipa air bersih dan air kotor, kran wastafel, pipa hidrant, kloset, dan sebagainya.

Dan untuk material elektrikal meliputi instalasi pipa-pipa listrik, kabel-kabel dan lampu-lampu.

Untuk baja konstruksi, digunakan baja tulangan dan baja profil yang masih harus didatangkan dari Jepang, Korea, Rusia dan Polandia karena sebelumnya pernah dicoba menggunakan baja WF lokal namun hasilnya sangat tidak memuaskan karena belum apa-apa sudah melengkung.

Baja tulangan yang digunakan terdiri dari ukuran diameter mulai 6 mm sampai 32 mm. Sedangkan untuk baja profil menggunakan bentuk-bentuk seperti sayap lebar (wide flange) memiliki dimensi tinggi 200 mm sampai 450 mm, Canal Cnp memiliki dimensi tinggi mulai 75 mm sampai 150 mm, siku dengan ukuran 30 mm sampai 100 mm dan juga plat baja berukuran tebal mulai 2 mm sampai 15 mm.

Sedangkan kekuatan lantai bangunan menggunakan pelat lantai beton bertulang yang memiliki kualitas beton 300 kg per cm persegi.

Pelat lantai tersebut dipikul oleh balok lantai dengan menggunakan baja profil sayap lebar (wide flange) dengan kekuatan tegangannya bernilai 4.100 kg per cm persegi.

Semua pengadaan material berupa bahan baku diolah sendiri hingga menjadi bahan material jadi.

Misalnya untuk keperluan besi yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri dan di-erection sendiri.

Dalam pabrikasi baja baik pemotongan, pengelasan maupun pons (pelubangan) dan rolling plat baja seluruhnya menggunakan teknologi Ma’had sendiri.

Teknologi pembesian menggunakan peralatan yang disebut bar cutter dan bar bending machine untuk membengkokkan dan memotong besi tulangan sesuai dengan kebutuhan. (Sumber : Kubahmesjid.com)



Three-red-handdrawn-down-arrows BANNER FREE MEMBER