Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1436H

Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh maghfiroh.

Pondasi Awal Masjid Rahmatan Lil Alamin

Pondasi Masjid menggunakan Pondasi kapal yang tahan gempa.

Masjid Rahmatan Lil Alamin

Di sini orang-orang beriman membangun Masjid Rahmatan Lil Alamain.

Kubah Masjid Rahmatan Lil Alamin

Memiliki 4 kuba Khulafaur Rasyidin, dan 8 Kubah tambahan di delapan penjuru mata angin.

Masjid Rahmatan Lil Alamin tampak dari Selatan

Masjid ini memiliki 7 lantai yang dilengkapi fasilitasi Lift dan eskalator di setiap lantainya.

Masjid Rahmatan Lil Alamin di Malam Hari

Lampu menerangi pemandangan yang indah pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Senin, 06 Juli 2015

Saatnya Penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin dengan Program Jammas


Pembangunan masjid selalu menjadi magnet bagi siapa saja. Orang akan dengan iklhlas mengulurkan tanggannya mengeluarkan shodaqoh demi terwujudnya rumah Allah. Itu terbukti dalam Program JAMMAS. Banyak orang berlomba-lomba menafkahkan hartanya di jalan kebenaran. Nilainya pun tak ala kadarnya dari jutaan rupiah hingga ratusan juta rupiah. Mereka berlomba Fastabiqul Al-khoirot.

Caranya setiap satu karung tanaman jahe “dinilai” Rp 20.000. Ini untuk memudahkan pernghitungan sehingga siapapun yang berhasrat untuk mensuksweskan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin cukup menyebut berapa karung sudah bisa dikalkulasi rupiah yang akan disumbangkan. Situasi acara sumbangan untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin ini terkadang tak ubahnya lelang kebaikan. Misalnya ada donator yang sebelumnya hanya berniat bershodaqoh 500 karung, karena melihat dan mendengar donator yang lain berdonasi lebih tinggi maka ia pun menaikan nilai shodaqohnya.

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, donator yang datang untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin bukanlah orang yang mempunyai maal yang lebih. Rasullullah menyebutnya sebagai kaum duafa. Duafa itu merupakan masyarakt grass roots yang sering diartikan masyarakat bawah itu bukan berarti orang-orang yang tidak mampu, justru merekalah yang mempunyai kekuatan yang bisa menggerakkan segala macam dalam makna positif.

Duafa juga bukan berarti lemah tanpa mempunyai perhitungan yang dafiq (shaleh), yang mampu menciptakan nashr (pertolongan) dan membawa rezeki. Innama tunsharuuna wa turzaquuna bi duafaaikum (sesungguhnya kalian ditolong dan dibiayai orang-orang duafa) (HR. Ahmad).

Siti Aliyah misalnya, nenek berusia 72 tahun asal Desa Mondo, Kec.  Maja, Kab. Kediri, Jawa Timur, sanggup bershodaqoh 1.000 karung. Jika dirupiahkan sejumlah 20 juta. Angka yang sangat besar. Sehari-hari Alifyah hanya berdagang rempeyek. Rencananya uang sebanyak itu akan diberikan secara bertahap selama sepuluh bulan. Jadi rata-rata tiap bulan Akfiyah akan menyumbang sebesar Rp 2 juta . Alfiyah meyakini dengan bershodaqoh untuk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin rejekinya tidak akan berkurang bahkan bertambah. “Saya ini sudah tua, cari uang tiap hari buat apa?” katanya.

Hanifah perempuan umur 69 tahun dari Pontianak, Kalimantan Barat, datang dalam keadaan fisik kurang baik, kakinya sakit harus dibantu dengan kursi roda. “Untuk berdiri saja saya tidak bisa, tapi untuk JAMMAS saya mesti datang,” katanya. Sebelum naik di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin pikirannya berubah, niat shadaqahnya pun bertambah menjadi 1.000 karung. Azamnya kiang melambung setelah mendapat penjelasan tentang JAMMAS saat bersilahturahim dengan Syaykh Al-Zaytun. “Saya tetapkan bershadaqah 1.850 karung, atau Rp 37,5 Juta,” kata Hanifah.

Kabar Jahe Al-Zaytun Membangun Masjid juga sampai ke telinga Muslim Hamid lealki berumur 37 tahun yang sehari-hari menjadi juru parker di pusat perbelanjaan Muara Bungo, Jambi. Jiwanya langsung tergerak begitu informasi penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin diperolehnya. Muslim berangkat ke Al-Zaytun seorang diri meninggalkan istrinya yang sedang berdagang pisang. Lima belas juta rupiah menjadi tekadnya bershadaqah untuk Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini pastilah tidak sedikit bagi juru parker seperti Muslim yang pendapatannya tak menentu. “Nilai dana yang saya niatkan memang cukup besar, tetapi semua kan untuk kebaikan,” kata Muslim.

Faturahman siswa kelas V SD asal Aceh saat datang bersama sang ayah Asril juga tak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi. Ia yang masih berumur 11 tahun ini jelas belum mempunyai penghasilan, namun begitu mendengan program JAMMAS hatinya tergerak, uang jajan pemberian dari sang ayah akan dikumpulkan, diserahkan untuk Rahmatan Lil Alamain. Bagi Faturahman sedikit mengurangi kesenangan untuk jajan tak jadi soal. Ikut tercatat sebagai anak yang terlibat dalam pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin adalah sebuah kemulian jiwa. Tujuh ratus lima puluh karung setara dengan Rp 15 juta merupakan azam yang diucapkannya.

Kelompok anak muda yang kerap dianggap suka hura-hura dan foya-foya juga tidak mau ketinggalan. Alimah misalnya, bersama Hendrik, Sose, dan Nurul, tiga rekan bisnisnya dibidang pembuatan coklat, semula atas nam kelompok usahanya berhasrat member 2500 karung. Namun Syaykh Al-Zaytun mengatakan jiga menyumbang atas nama kelompok tidak ada bin (nama ayah)-nya. “Bin itu merupakan doa anak kepada orang tua,” kata Syaykh menjelaskan pentingnya bin setelah nama seseorang.

Mendengar penjelasan itu Alimah berubah pikiran, 2500 karung pun dibagi empat, plus 300 karung dari kocek pribadi. Akhirnya anak-anak muda ini masing-masing mengazamkan kurang lebih 925 karung atau hampir 20 juta rupiah.

Dari kalangan guru Al-Zaytun, Usth. Kokom Komariah yang sehari-hari mengajar bahasa Indonesia bershadaqah Rp 20 juta sama dengan 1000 karung. Jumlah yang sangat besar bagi seorang pendidik yang sudah bisa diukur berapa pendapatan perbulannya.

Relawan Al-Zaytun juga tak mau ketinggalan turut ambil bagian dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Mereka yang kesehariannya berada di Kampus Al-Zaytun untuk mengerjakan berbagai pekerjaan menjadi kelompok paling awal ambil bagian dalam membantu pendanaan Masjdi Rahmatan Lil Alamin. Hanya hitungan jam saat program JAMMAS digulirkan mereka berbondong-bondong datang menjadi donator. Tak sampai satu bulan semua relawan yang jumlahnya lebih seribu orang itu sudah tercatat menjadi donator dengan besaran sumbangan variatif. Semuanya dibayar cash.
Dari kalangan usahawan tak kalah banyaknya dengan nilai uang yang disumbangkan juga tak sedikit, seperti Nova dan Syaiful Hadi dari Jakarta Pusat, Amir Marzuki dari Jakarta Selatan, dan Supriadi dari Bekasi yang sama-sama menyumbang 5.000 karung atau Rp 100 juta. Subaharman dan istrinya Aghia dari Banten masing-masing menyumbang sebesar 10.000 dan 7.000 karung.

Fikri Naufal asal Bekasi tidak mau menyia-nyiakan dalam berlomba untuk kebaikan. Dengan mantap pria ini mengzamkan 10.000 karung setara Rp 200 juta. Menurut Fikri sejak lama ia ingin melihat selesainya Masjid Rahmatan Lil Alamin. Maka begitu ada program JAMMAS Fikri segera menyambut. “Saya ingin membuat kenangan dalam hidup saya dengan ikut membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Naufal.

Para donator bukan hanya datang dari dalam negeri. Mereka ada juga dari Malaysia dan Singapura. Mereka adalah wali santri dan para pencinta Mahad Al-Zaytun. Seperti Ahmad Ruzizan Maphilindo dari Malaysia yang menyanggupi satu juta dolar Amerika untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Begitulah, berlomba-lomba dalam kebaikan unutk penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin itu masih terus berlangsung. “Man bana lillaahi masjidan banallahu lahu baytan fii al-jannah (siapa yang membangun Masjid karena Allah, akan dibangunkan rumah di akhirat. HR. Mutafaw ‘alaih) (Al-Zaytun Edisi 65-2015)



Three-red-handdrawn-down-arrows


Minggu, 28 Juni 2015

Ikhlas dan Penuh Antusias menyambut Program JAMMAS


Hingga awal April 2015 lebih dari 17 ribu orang berbondong-bondong datang ingin menjadi bagian dari penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jarak, waktu, tenaga, dana, dan keluarga tak jadi soal. Jarak Aceh dan Indramayu pastilah tidak pendek. Jika menggunakan bus memakan waktu yan tidak singkat. Perlu tiga sampai empat hari perjalanan. Namun , bagi T.Puteharys, jarak tak menjadi masalah. Meski usianya sudah tak lagi muda, hampir mendekati 70 tahun, kakek ini tetap antusias dan semangat datang ke Al-Zaytun. Tujuannya hanya satu, ikut menyukseskan program JAMMAS.

Bersama 15 orang Aceh, Sabtu 28 Pebruari 2015 saat tiba di Al-Zaytun, tak mengenal lelah setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer, Puteh yang kakinya (maaf) sudah tidak berfungsi dengan baik, harus dibantu kursi roda, langsung tawaf, berkeliling dengan menaiki lebih dari 300 anak tangga mulai lantai pertama sampai puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berlantai tujuh itu.

Puteh hanyalah satu dari ribuan orang sejak program JAMMAS disosialisasikan akhir tahun 2014. Tua, muda, laki-laki dan perempuan, beragam profesi, dari pedagang, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, pegawai negeri, petani, mahasiswa, pegawai kantor dan lain sebagainya selama program JAMMAS “diluncurkan” tumplek blek seperti semut mendatangi gula ke Al-Zaytun.

Hingga awal April 2015 tercatat 17.254 orang datang ke Al-Zaytun menyatakan memberikan dukungan dan ambil bagian terhadap pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini dipastikan akan terus meningkat mengingat sampai detik ini masih banyak masyarakat yang antusias andil dalam program JAMMAS.

Melihat data pada pekan pertama April 2015 itu, rata-rata setiap bulan empat ribu orang lebih ke Al-Zaytun untuk menjadi bagian dari program JAMMAS. Mereka datang berombongan, puluhan, belasan bahkan ratusan orang. Jika tidak mempunyai keinginan yang kuat dalam diri, mustahil ini terjadi. Apalagi mereka datang dari berbagai tempat di seluruh nusantara, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai negeri jiran Malaysia.

Padahal program JAMMS ini tidak diumumkan melalui media cetak, televise ataupun radio. Hanya lewat mulut ke mulut, atau getok tulas, namun animo masyarakat ternyata sangat tinggi. Bayangkan betapa dasyatnya jika melalui media masa. Ini membuktikan tak susah mengajak masyarakat untuk berjalan direl kebaikan.

Ketika tulisan ini dibuat pertengahan April 2015, setiap pekannya masih ratusan orang datang untuk berpartisipasi menyelesaikan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Ini bukan berarti menunjukan adanya penurunan dibandingkan pada awal-awal program JAMMAS digemakan yang setiap harinya ratusan orang datang untuk menafkahkan harta demi cita-cita terwujudnya tempat ibadah umat Islam yang megah, tetapi lebih kepada rencana pada September 2015 ini sebanyak 22.000 orang harus sudah siap mendonasikan hartanya. Artinya tak sampai lima ribu orang. Artinya pada bulan April 2015 sudah mencapai 17.000 berarti tak sampai lima ribu orang rencana 22.000 orang akan dicapai. Dan jika dihitung dari April masih ada waktu lima bulan lagi sampai bulan Sembilan.

Kenapa untuk menjadi dinatur saja kok mesti ke Al-Zaytun? Mengapa bukan uangnya saja yang “mendatangi”? Praktis dan gampang. Tak perlu repot. Jika berpikir sederhana memang begitu. Akan tetapi ini bukan hanya soal uang. Uang memang diperlukan, akan tetapi bertemu sesame dinatur dan melihat langsung Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berdiri kokoh juga sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Dari melihat langsung Masjid yang akan menajdi kebanggaan umat Islam inilah rasa memiliki akan timbul. Dan semakin menjadi mengerti beta besarnya umat Islam. “Saya benar-benar terkesima setelah sampai di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Safi’ih Arep, donator dari Tangerang dengan suara tersendat-sendat menahan haru.

Ribuan “Safi’ih” mengalami “sesak nafas” dan tak bisa berkata-kata karena terpana. Kondisi ini sulit terjadi jika mereka tak memiliki girah terhadap program JAMMAS. Untuk sampai di Al-Zaytun banyak hal yang mesti dipertimbangkan (dalam makna positif), waktu harus diatur agar tak bebenturan denga kegiatan yang lainnya, tenaga mesti dipersiapkan agar tetap fit setelah menempuh perjalanan jauh. Tak jarang pekerajaan juga harus ditinggalkan untuk sementara. Itu hanya diantaranya. Tetapi jiga kemudian para donator ini rela mengorbankan semua yang sudah menjadi rutinitasnya, jawabnya apalagi kalau bukan karena antusias menyambut program JAMMAS.

Paling tidak untuk mengikuti kegiatan program JAMMAS ini para donator memerlukan waktu satu hari dua malam, jika berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, dari Jakarta Sabtu malam, maka pada Ahad mereka akan mengikuti kegiatan program JAMMAS seperti tawaf, silahturahim denga Syaykh Al-Zaytun dan menyampaikan jumlah dana yang akan dishadaqahkan. Ahad malamnya baru bertolak ke Jakarta. Bayangkan jika mereka datang dari Surabaya, atau daerah lain di luar Jawa. Pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Bahkan agar tak sampai terlambat mengikuti acara seringkali para donator ini datang lebih awal. Seperti 15 orang calon dinatur dari Jambi. Diagendakan mengikuti acara pada Ahad 29 Maret, namun mereka tiba sehari sebelumnya. Waktu menunggu seharti tak disia-siakan, hal ihwal yang ada di Al-Zaytun “ditunjau”, Masjid Rahmatan Lil Alamin tentulah menjadi tempat “favorit” yang dilhat. Apalagi maksudnya kalau bukan semakin menumbuhkan semangat dan meneguhkan niat.

Soal antusias merespon program JAMMAS ini juga datang dari Priyagung Sambodo yang tak kalan serunya. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang berusia 21 tahun ini begitu mendengar rencana penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin, jiwanya langsung tergerak, bak pesan berantai teman-temannya dihubungi diberikan informasi. Perjuangannya tak bertepuk sebelah tangan, taman-temannya menyambut penuh semangat. Jadwal untuk berangkat ke Al-Zaytun pun dibuat. Semua sepakat 1 Februari. Maka hari pertama Februari yang jatuh pada Ahad itu seakan menajdi ajang pembuktian bagi Agung dan teman-temannya sesame mahasiswa di Yogyakarta terlibat dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Cerita lain datang dari istri-istri relawan Al-Zaytun yang berdomisili di luar Indramayu. Sebagapi pendamping suami yang dalam istilah jawa kerap disebut suargo nunut, neroko katut tak mau ketinggalam mengikuti jejak sang suami yang telah lebih dulu mengikti program JAMMAS. Contohnya, Nyonya Warsun, ibu empat anak ini yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan bonafit di Jakarta. Ketika mengajukan cuti beberapa hari akan mengikuti acara program JAMMAS, sang manajer menoak scara halus dengan memberikan iming-iming akan di bayar lebih besar jika cuti tidka dilakukan. Namun Nyonya warsun tetap tidak bergeming. Program JAMMAS didahulukan imbalan besar sang manajer diabaikan.

Malah, beberapa orang istri relawan yang juga bertempat tinggal jauh dari Indramayu begitu tiba di Al-Zaytun sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan tak bisa langsung mengikuti acara. Mreka harus pulang karena acaranya ditunda. Kalau tidak memiliki jiwa besar untuk menjadi bagian pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin pastilah akan patah arang. Tetapi itu tidak terjadi, mereka tetap datang lagi begitu diundang. Dengan ikhlas dan Antusias menyambut Program JAMMAS.



Three-red-handdrawn-down-arrows


Sabtu, 27 Juni 2015

Program Seru Jahe Mahad Al-Zaytun Membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin menjelang Tahun Baru 2014

Program itu digulirkan pada penghujung tahun 2014. JAMMAS begitu namanya. Singkat gampang diingat plus mudah dihafalkan. JAMMAS merupakan akronim dari Jahe Mahad Al-Zaytun Membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin. Atau lebih tepatnya melanjutkan pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Masjid tujuh lantai yang berada di tengah-tengah Kampus Al-Zaytun, dapat dilihat dalam radius belasan kilometer. Tergambar betapa besarnya, dan berapa dana yang diperlukan.

Rencananya Masjid Rahmatan Lil Alamin ini akan diselesaikan selama tiga tahun mulai September atau Oktober 2015. Menara Pemuda dan Perdamaian diagendakan pada tahun pertama. Selanjutnya menyelesaikan Kubah yang akan dilapisi emas (Al Mustafa al Kubra). Tahun ketiga pemasangan granit dinding, penyelesaian lift dan escalator.

Lho, kok bisa? Hanya dengan jahe tanaman rimpang dengan rasa pedas dan hanggat yang mudah tumbuh dan tak sulit dicari dipasaran itu dapat dijadikan alat membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin. Bagaimana caranya? Simak saja berita-berita mengenai JAMMAS, jahe Mahad Al-Zaytun membangun masjid ini.



Three-red-handdrawn-down-arrows


Rabu, 24 Juni 2015

Dialog Gus Dur dan Santri tentang Khalifah

Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
 

Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
 

Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
 

Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
 

Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
 

Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
 

Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
 

Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
 

Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
 

Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
 

Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
 

Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
 

Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
 

Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."


Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)



Three-red-handdrawn-down-arrows


Selasa, 23 Juni 2015

Masjid Rahmatan Lil Alamin dilihat dengan menggunakan Google Earth

Pembangunan penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin terus dilakukan dari hari ke hari. 

Pembangunan saat ini untuk penyelesaian Kubah utama dan kubah pelengkap yang akan dilapisi dengan Emas 24 karat. Sehingga nantinya, Masjid Rahmatan Lil Alamin merupakan mesjid terbesar yang mempunyai kubah emas.

Masjid Rahmatan Lil Alamin ini baru rampung sekitar 25 % dari penyelesaian, nanti setelah rampung diperkirakan bisa menampung 150.000 jamah. Dibangun di atas area seluas 6,5 hektar dan memiliki 7 lantai yang berukuran 99 x 99 meter. Lantai ketujuh disebut sebagai atap masjid, satu-satunya masjid yang atapnya  bisa menampung kurang lebih 4000 jamaah. 

Selain itu Masjid Rahmatan Lil Alamin ini memiliki lima buah kubah : satu kubah yang besar yang dikelilingi oleh empat kubah yang lebih kecil seperempat lingkaran, Empat kubah kecil itu merupakan simbol dari empat mazhab besar di dunia : Hanafi, Maliki, Safi'i dan Hambali. 

Sedangkan kubah besarnya merupakan risalah Muhammad yang menaungi keempat mazhab tadi. Dan pada setiap puncak sudut masjid terdapat delapan kubah yang melambangkan delapanpenjuru mata angin sebagai simbol seluruh penjuru dunia.
Nah, gambar di atas merupakan gambar kubah Masjid Rahmatan Lil Alamin yang dilihat dengan menggunakan Google Earth.




Three-red-handdrawn-down-arrows


Rabu, 17 Juni 2015

Membuat Keajaiban Dunia ke 8

Dalam Dzikir Jumat Syekh AS Panji Gumilang Pada tanggal 20 Pebruari 2015, disampaikan mengenai program jammas, yakni Program Jahe membangun Masjid Rahmatan Lil Alamin.

Masjid Rahmatan Lil Alamin, di rencanakan sebagai Masjid terbesar dan terindah di dunia. Semoga saja ya. Yuk kita simak apa yang disampaikan beliau dalam Dzikir Jumat tersebut di bawah ini.


Minggu, 14 Juni 2015

Masjid At-Tin di Jakarta

Masjid At-Tin adalah satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII. Masjid lainnya adalah Masjid Diponegoro. Masjid yang mulai dibangun pada April 1997 ini menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza. Pembangunan Masjid At-Tin selesai pada tahun 1999 dan dibuka secara umum pada tanggal 26 November 1999. Alamat Lengkapnya Ada Di Jalan Raya Taman Mini Pintu 1 Taman Mini Kelurahan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur 13560 

Nama At-Tin diambil dari salah satu surah dalam Al-Quran yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, atau surah ke-95 dalam urutan penulisan Al-Qur‘an. Nama surah itu adalah At-Tin yang berarti sejenis buah yang sangat manis, lezat, dan penuh gizi. Buah ini dipercayai mempunyai manfaat yang banyak, baik sebelum matang maupun sesudahnya. 

Selain diinspirasi dari surah Al-Qur‘an, pemberian nama At-Tin sebenarnya juga merupakan upaya untuk mengenang jasa-jasa istri mantan Presiden Soeharto yang bernama Ibu Tien atau lengkapnya Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Memang, pendirian Masjid At-Tin sejak awal merupakan usaha anak-cucu Presiden Soeharto untuk mengenang ibu/nenek mereka. Pendirian masjid ini terlaksana berkat bantuan Yayasan Ibu Tien Soeharto yang merupakan yayasan milik anak-keturunan Ibu Tien Soeharto. Oleh karenanya, nama At-Tin tentu dimaksudkan sebagai doa dan perwujudan rasa cinta yang tulus dari anak/cucu kepada ibu/nenek mereka. 

Arsitektur 

Arsitektur Masjid At-Tin mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dari segi arsitektur bangunan, hiasan ornamen, maupun desain dalam dan luar ruangannya. Arsitek masjid ini adalah Fauzan Noe'man dan Ahmad Noe'man. Fauzan Noe'man merupakan anak dari Ahmad Noe'man. 

Gaya arsitektur masjid ini berusaha menonjolkan lekukan bentuk anak panah pada dinding di hampir semua sudut dan ornamen yang menghiasinya. Lekukan anak panah ini terlihat secara jelas pada bagian muka masjid dari arah pintu masuk. Dengan begitu, wisatawan yang berkunjung ke masjid ini akan dapat melihat dengan leluasa lekukan-lekukan panah yang ditampilkan, sebelum memasuki ruang dalam masjid. 

Eksterior 

Pada bagian muka (sisi timur) masjid, terdapat taman luas dengan pepohonan rindang yang mengitari plaza berbentuk lingkaran yang terbuat dari marmer berwarna krem. Dari plaza menuju arah muka masjid, terdapat jalan yang terletak di kanan dan kiri plaza. Bagian muka masjid tersebut secara terinci menampilkan tiga lekukan anak panah yang bagian tengahnya didominasi dengan warna abu-abu. Motif yang ditampilkan pada lekukan berbentuk anak panah ini sepintas menyerupai tebaran bunga, karena dihiasi oleh sejumlah gambar bermotif bunga di tengahnya. Selain tiga lekukan berbentuk anak panah tersebut, juga terdapat dua lekukan anak panah lagi (ukurannya lebih kecil) pada sisi kanan dan kiri dinding masjid. 

Selain itu juga tampak dari bagian muka masjid sebuah kubah utama yang diapit oleh empat kubah kecil. Pada bangunan kubah-kubah kecil ini juga dipenuhi lekukan berbentuk anak panah yang lebih tinggi dan runcing.

Mencoloknya lekukan, konstruksi, dan ornamen yang berbentuk anak panah pada tiap bagian masjid ini memberikan gambaran bahwa rancang bangun masjid At-Tin didesain se-minimal mungkin untuk mengekspos elemen estetis terputus dengan mengedepankan gerakan geometris yang terus bersambung seperti yang tergambar dalam sudut masing-masing anak panah yang saling berhubungan. Bentuk anak panah ini memiliki makna agar umat manusia tidak pernah berhenti mensyukuri nikmat Allah—seperti terlukis dalam bentuk anak panah—mulai dari titik awal hingga titik akhir. 

Interior 

Kekhasan lain yang terdapat pada masjid ini adalah pintu masuk utama masjid yang terdiri dari dua dinding tanpa daun pintu. Pintu masuk ini juga berbentuk seperti anak panah. Setelah melewati pintu utama, pengunjung akan disuguhi kolam air mancur yang pada bagian pinggirnya dapat berfungsi sebagai tempat duduk para pengunjung. Kolam air mancur dengan keramik warna hijau muda ini juga berbentuk seperti anak panah. Dari arah pintu utama, pengunjung dengan mudah dapat menuju ke arah lantai dasar yang digunakan untuk ruang serbaguna, tempat wudu (pria/wanita), ruang mushaf, ruang rapat kecil, perpustakaan, ruang audiovisual, dan ruang internet. Selain ruang-ruang tertutup ini, area lantai dasar masjid ini dikelilingi teras terbuka di mana para pengunjung dapat dengan leluasa melihat ke arah taman. 

Lantai dasar masjid ini dikelilingi oleh tangga-tangga sebagai jalan menuju ke arah lantai satu. Melalui pintu utama, para pengunjung dapat menggunakan dua tangga utama dan sebuah eskalator pada sisi kanan menuju lantai satu. Alternatif lainnya, pengunjung juga dapat menggunakan empat tangga lain yang terdapat di sudut kanan kiri masjid serta satu tangga di bagian belakang masjid. 

Ruang utama untuk salat terletak di lantai satu. Di ruang ini tampak tujuh lekukan berbentuk anak panah dari keramik warna hijau tua pada bagian dindingnya. Bagian tengahnya difungsikan sebagai mihrab dan mimbar. Pada bagian sisi kanan dan kiri ruangan yang berhubungan dengan ruang teras samping ini dibatasi oleh penyekat kayu ukir yang setiap saat bisa dibongkar-pasang. Pengunjung yang berada di ruangan ini dapat melihat kerangka kubah dari dalam. Saat pengunjung mengamati bagian dalam kubah akan tampak lempengan baja tipis pada ketinggian tertentu dengan warna dasar hijau yang dikelilingi oleh kaca patri berwarna hijau-merah-kuning dan biru. Sehingga, saat matahari bersinar, cahaya yang masuk akan dipantulkan dan membentuk kombinasi warna yang mengagumkan. 

Kaligrafi 

Berbeda dengan masjid pada umumnya, penggunaan ornamen kaligrafi dalam masjid ini sangat minim. Ornamen kaligrafi hanya nampak pada dinding bagian atas ruang salat utama (lantai satu) dan sepanjang dinding pada lekukan anak panah di area mihrab dan mimbar. Dengan menggunakan cat warna hijau muda, tampak tulisan ayat-ayat Al-Qur‘an mengitari dinding ruang salat utama yang juga bisa dilihat dari arah mezanin. 

Secara umum, masjid At-Tin dikelilingi oleh koridor-koridor dengan atap yang dibentuk seperti anak panah. Koridor ini merupakan sarana bagi para pengunjung berjalan kaki menuju gedung utama masjid. Selain itu, koridor ini juga sering digunakan untuk salat, saat jemaah tidak lagi tertampung di dalam masjid. Mungkin, tujuan lain dari pembuatan koridor ini juga untuk menghindari rusaknya taman akibat diinjak oleh pengunjung. Taman ini memang banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman, seperti palm, tanaman merambat, dan rerumputan. Sekilas taman ini nampak seperti padang rumput yang terpetak-petak karena diberi jalur setapak bagi pejalan kaki. Di area rerumputan ini juga terdapat empat kolam air mancur berbentuk bunga mekar yang pada bagian dindingnya bisa difungsikan sebagai kran tempat wudu. 

Fasilitas Pendukung 

Masjid At-Tin memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti warung makan, ruang rekreasi/TV, ruang internet, perpustakaan, rumah dinas Imam Besar, mess muazin, rumah penjaga, ruang kegiatan, ruang kelas, dan lahan parkir yang dapat menampung 100 sepeda motor, 8 bus, dan 350 mobil. Di samping fasilitas-fasilitas pendukung, masjid ini juga sering menyelenggarakan kegiatan seperti diskusi tema khutbah sebelum salat jumat, kuliah Ahad Duha berbentuk cermah dan diskusi, pengajian tafsir Al-qur‘an (Tafsir Jalalain) setiap Minggu pagi (08.00—11.00 WIB), pengajian karyawan, seminar keagaman, tablig akbar, dan peringatan hari besar Islam.



Three-red-handdrawn-down-arrows