Selasa, 02 Juni 2015

Masjid Biru Sankt Petersburg, Uni Soviet

Pada 1956, Presiden RI Soekarno mengunjungi Uni Soviet untuk pertama kalinya. Ini merupakan kunjungan pertama Soekarno ke Uni Soviet sejak kedua negara resmi menjalin hubungan diplomatik pada 1950. Kunjungan Soekarno ternyata berdampak sangat besar, termasuk bagi berdirinya salah satu masjid terbesar di Rusia saat ini, Masjid Biru Sankt Petersburg. 
 
Masjid Biru Sankt Petersburg, Saksi Sejarah Manisnya Hubungan Indonesia-Soviet di Era 50-an
Masjid Biru mulai dibangun pada 1910 ketika umat Islam di Rusia saat itu hanya berjumlah sekitar delapan ribu orang. Foto: Wikipedia

Pada Juni 2014 lalu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kota terindah di Rusia, Sankt Petersburg. Selama empat hari berwisata di kota yang indah tersebut, saya sempat mengunjungi Masjid Biru yang terkenal. Masjid indah yang berdiri kokoh di pusat kota ini ternyata memiliki kenangan manis dengan Indonesia, tepatnya Presiden Soekarno.

Dalam kunjungannya ke Uni Soviet pada 1956, presiden pertama Indonesia tersebut menyempatkan diri mampir ke kota Leningrad (nama kota Sankt Petersburg pada masa itu). Kota ini sangat cantik, memiliki arsitektur yang memesona, dan terletak di delta Sungai Neva. Tak heran, kota ini pernah menjadi rebutan banyak negara. Di kota ini pula berdiri istana-istana terkenal, seperti Istana Musim Panas Petergof, Istana Musim Dingin Hermitage, serta Benteng Peter dan Paul. Saat melintasi jembatan Trinity Bridge yang berdiri di atas Sungai Neva, pandangan Soekarno saat itu tertuju pada bangunan berbentuk masjid yang berada di kejauhan.

Bangunan itu memiliki kubah biru dengan gaya arsitektur Asia Tengah. Dua menara kembarnya yang menjulang tinggi berhadapan dengan beberapa gereja di sekitarnya. Saat itu, Soekarno mengalkulasi: jika bangunan itu sebuah masjid, pasti mampu menampung lebih dari tiga ribu jemaah muslim untuk beribadah. Soekarno pun mengajak rombongan mendatangi bangunan itu. “Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Soekarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan,” cerita imam Masjid Biru Sankt Petersburg Zhapar N. Panchaev.

Setelah tiba, ternyata bangunan tersebut memang secara fisik adalah sebuah masjid, tapi telah beralih fungsi menjadi sebuah gudang.
Kini, Masjid Biru masih berdiri tegak di Sankt Petersburg. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Di bawah pemerintahan komunis Uni Soviet, seluruh masjid dan gereja di seluruh negeri beralih fungsi menjadi gudang dan beragam kegunaan lain. Masjid Biru, salah satunya, dijadikan gudang sejak Perang Dunia II.

Setelah kunjungannya ke masjid tersebut, Soekarno kemudian bertemu Nikita Khrushchev, sang pemimpin Soviet. Saat Khrushchev bertanya bagaimana kesan Soekarno mengenai Leningrad, sang presiden malah membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi. “Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Hanya sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid,” kata Panchaev.

Saat berkunjung ke masjid bersejarah ini, memang di dalam masjid saat itu sangat sepi. Namun, menurut Alimzhan, penjaga masjid, setiap hari Jumat masjid ini penuh oleh umat Islam yang menunaikan ibadah salat Jumat. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia
Masjid Biru mulai dibangun pada 1910 ketika umat Islam di Rusia saat itu hanya berjumlah sekitar delapan ribu orang. Sebagian besar para pekerja yang membangun masjid ini adalah mereka yang tengah membangun kapal di galangan Sungai Neva. Para pekerja muslim ini berasal dari kawasan selatan Soviet seperti Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan.
Izin pembangunan masjid ini diberikan langsung oleh Tsar Nikolai II pada 3 Juli 1907 di Petergof. Sang arsitek masjid, Nikolai Vasilyev, memadukan ornamen ketimuran dan mosaik biru toska pada kubah, gerbang masjid, menara, serta mihrab imam. Tak heran, masjid ini pun lebih dikenal dengan nama Masjid Biru.

Pembangunan masjid dilakukan setelah dibentuk komite khusus pada 1906 yang diketuai Ahun Ataulla Bayazitov. Emir Bukhara Said Abdoul Ahad tercatat sebagai penyumbang terbesar pembangunan masjid ini. Said Abdul Ahad membiayai semua biaya pembangunan masjid. Saat resmi dibuka pada 1913, Masjid Biru adalah masjid terbesar di Eropa. Masjid ini memiliki kubah biru setinggi 39 meter dan menara kembar setinggi 49 meter.

Desain arsitektur salah satu pintu masjid dengan dominasi warna biru toska. Foto: Wikipedia
Setelah ditutup dan dijadikan gudang pasca-Perang Dunia II (1942-1956), masjid ini dipugar secara besar-besaran pada 1980. Sang penjaga masjid, Alimzhan mengatakan, Masjid Biru selalu menjadi objek kunjungan pemimpin-pemimpin negara Islam bila datang ke Sankt Petersburg. “Saya sendiri bertemu Gamal Abdul Nasser dari Mesir ketika beliau berkunjung ke sini,” katanya.

Kini, Masjid Biru masih berdiri tegak di Sankt Petersburg. Lingkungannya tak berubah, masih tepat di jantung kota, berseberangan dengan benteng Peter dan Paul. Di depannya, terbentang Taman Gorkorvskaya yang luas dan dipenuhi pepohonan tua.

Di dalam masjid terhampar karpet biru, dinding-dindingnya dihias dengan ornamen-ornamen khas Rusia dan tak lupa hiasan kaligrafi di setiap sudutnya. Saat berkunjung ke masjid bersejarah ini, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah salat asar. Di sana, saya sempat bertemu beberapa orang imigran asal Tajikistan yang sedang beribadah. Seusai salat, kami sempat berbincang-bincang dan saya menyempatkan untuk membaca Quran bersama mereka. Menurut Alimzhan, setiap hari Jumat masjid ini penuh oleh umat Islam yang menunaikan ibadah salat Jumat.

Saat berkunjung ke Sankt Petersburg pada Juni 2014 lalu, kedua menara masjid ini sedang direnovasi. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia


Masjid Biru telah menjadi saksi manisnya hubungan Indonesia dan Uni Soviet di era 50-an. Soviet yang berideologi komunis ternyata mau mendengarkan permintaan sahabatnya untuk membuka kembali masjid tersebut. Rasa saling percaya membuat kedua negara dapat membina hubungan yang didasarkan pada ketulusan dan kejujuran. Itu membuktikan bahwa perbedaan ideologi tak menjadi penghalang untuk menjaga hubungan bilateral antara kedua negara, sambil terus saling menghormati satu sama lain.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH. Berdasarkan informasi yang diolah dari buku “Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia” karya Toni Lebang (2010).


header niko 728 x 90

0 komentar:

Posting Komentar